IM-Ambon-You’re Literally Not Even Going To Let Me Have A Seat At The Table, Kamu benar-benar tidak akan membiarkan aku mendapatkan kursi di meja ini. Merupakan salah satu kalimat yang dituliskan Charles Perrault dalam hikayat Cinderella.
Cinderella sendiri merupakan kisah penuh pesona yang mengisi setiap lipatan sejarah di kalangan anak-anak sedunia, bayangan akan kemegahan istana dengan segala macam atributnya seolah menjadi paras lain dari mimpi anak-anak.
Dikisahkan Cinderella menemuai keberentungan semacam sosok mistik yang menawarkan keajaiaban berupa kereta kencana menuju istana, tikus dan kadal disulap menjadi kuda dan kusir yang harus menarik dan memacu kereta yang ditumpangi Cinderella menapaki jalan menuju istana.
Bayangan akan citra dari kisah bahagia Cinderella, kini menyisahkan dongeng baru dari gelapnya wajah kekuasaan, begitu juga di negeri ini. “Vox Populi Vox Dei” Selogan yang pertama kali dikemukakan oleh Jean Jacques Rousseau ditahun 1712-1778. yang mengukuhkan kehendak rakyat untuk memasuki istana kini dipangkas kembali.
Cita-cita di paruh pertama reformasi tentang kedaulatan rakyat yang kumuh dan kotor mengarah langsung keistana menjadi satu kebijakan yang utuh, harus kembali dipila melalui kendaraan bukan sebagi kereta kencana melainkan partai politik.
Dewasa ini praktek politik di istana dan parlemen tak ubahnya cermin dari kisah Cinderella, baik dari kursi presiden, gubernur, walikota bupati hinga kursi DPR. Jika para politisi mejadi tokoh protaginis sebagaimana cinderellah.
Maka Sosok Mistik dan kereta kencana serta tikus dan kadal merupakan kumpulan dari satu unit partai politik.
Kisah Cinderella memang cumu hikayat, tapi resonasinya menjalar hinga kepanggung politik. Itu mengapa tak sedikit dari para teoritikus politik menjadikan hikayat Cinderella sebagai satir untuk mengolok-olok kepongahan partai politik dan politisinya, sebagai Sindrom Cinderella (Cinderella Complex).
Bak keajaiban membawah berkah partai politik menwarkan jalan menuju istana. Sialnya setiap calon pengendara harus menghidupi Hasrat lapar partai politik. Alasan ini ikan terlihat rasional jika dihubungkan dengan uang, sebab disitu terdapat moral politik yang tidak murah.
Selain kesialannya, celakanya partai politik hanya akan menyediakan kendaraannya bagi sapa saja yang memiliki popularitas yang cukup atau semacam hubungan yang dituliskan Fukuyama pada the original of political order sebagai king of selection, dimana hubungan kekerabatan menyebarkan gen bersama pada satu poros kekuasaan. Entah itu anak, istri atau bahkan istri kedua, istri ketiga dan mungkin istri keempat.
Kedua problem partai politik ini yang memungkinkan laku para politisi hari-hari ini. Pada masalah Pertama dengan uang, mutasi kualitas manusia politik ke kualitas binatang politik sedang terjadi bak sang tikus dan kadal yang disulap dalam hikayat Cinderella.
Pada saat yang sama binatang politik itu akan saling memakan dan menyalip sebelum sampai keistana adalah Geoge Orwil Satu dari sekian sastrawan, yang melakukan sindiri melalui gaya satir yang tajam dalam sebuah novel terbitan tahun 1945. Animal Farm yang dituliskan Orwil merupakan kritikan keras bagi para politisi.
Kendati tokoh binatang pada novel tersebut dialamatkan pada tokoh-tokoh politik masa perang dunia ke II. Namun laku tokoh bintang dalam novel tersebut juga mewakili laku para politisi kita hari-hari ini, yang dianggap Orwil sebagi politikus yang hasu kekuasaan
Pada masalah kedua kita akan menemukan relasi King Of selection berubah menjadi oligarki. Sebagaimana Cinderella harus memenuhi Hasrat perut sang tikus dan sang kadal, karena tanpa makan kendaraan tak berjalalan.
Sang politisi yang telah tiba di dalam kemegahan istana harus menghidupi kendaraan politiknya, kemegahan dan keistimewaan itu hari-hari ini kian gila akan hormat dan kian cerewet, hampir disetiap perjuampaan atau acara tertentu selalu saja ada kalimat Pak Presiden yang terhormat atau Bapak angota DPR yang kami hormati. Atau dalam setiap pidato sambutannya para politisi ini selalu mempropagandakan, kemiskinan keadilan, kesejahtraan dan Kesehatan, yang justru untuk menjaga kekuasaan oligarkinya. “Saya akan akan sangat terbahak-bahak jika tuan-tuan membawah nama Mahatma Gandi” begitu kira-kira olok-olok Orwil.
Bagi George Orwil sendiri satir merupakan kritikan berparas humor, semacam revolus mungil, Humor is a tiny revolution, yang kiranya perlu kita rayakan, Dengan mengolok-olok laku politisi tapi dengan cara yang paling bahagia, dalam situasi politik hari-hari ini.
Di akhir kisah Cinderella sang tikus dan sang kadal ikut kedalam istanah merayakan kebahagiaan, entah mengapa korupsi selalu dari sana dan kadrun selalu mengokohkannya. “You’re Literally Not Even Going To Let Me Have A Seat At The Table” Kamu benar-benar tidak akan membiarkan aku mendapatkan kursi di meja ini.?
Abe Yanlua
Pecinta Drama Korea. (IM-Kiler).







