IM, PIRU-
Beban hutang Bupati SBB Yasin Payapo masih banyak kepada sejumlah donatur daerah ketika mencalonkan diri di Pilkada 2017 lalu. Salah satunya almarhum Jo Maspaitella kontraktor yang dijanjikan proyek tapi ternyata dibohongi Yasin.
Keluarga almarhum Jo Maspaitella yang kini susah dan butuh bantuan dua kali mendatangi kediaman Bupati SBB itu di Ambon namun janji tidak dipenuhi.
Tokoh masyarakat SBB Mat Hehanussa mengaku sempat berperan sebagai mediator pasangan YasinPayapo-Yus Akerina. Dia ikut mencari donatur ketika kedua pasangan ini maju di Pilkada Kabupaten SBB.
Setelah dimediasi, pasangan Yasin-Yus berkomitmen jika mereka menang Pilkada, Jo Maspaitella akan ikut menikmati kue pembangunan dengan mengerjakan sejumlah proyek daerah.
“Saya tahu itu kok, saya yang kasih ketemu bupati dan wakil dengan almarhum,” aku Mat Hehanussa kepada infomalukunews.com, Sabtu (27/6/2020).
Namun dana ratusan juta bahkan miliaran rupiah oleh Jo Maspaitella semasa hidupnya sia-sia. Setelah meninggal, anak dan isteri almarhum meminta proyek Yasin kembali umbar janji.
Alih-alih memberikan pekerjaan kepada keluarga almarhum Jo Maspaitella, Yasin justru memilih Uya yang baru muncul setelah kedua pasangan dilantik selaku Bupati-Wakil Bupati SBB.
Selain Uya, ada kontraktor Jimy yang merupakan lingkaran Uya sendiri.
“Bupati bukan bantu anak dan isteri almarhum malah kasih proyek ke Uya, dia ini siapa? Dia ini datang setelah bupati baru dilantik, itu khan kurang ajar, dan pembohongan” ketusnya.
Menurut Mat Hehanussa, Wakil Bupati Timotius Akerina harus jujur bicara, sebab tidak adanya pembagian kue pembangunan ini akibat ulah dia bersama Yasin Payapo.
Menurutnya, banyak kontraktor merupakan penyokong dana bagi Yasin-Yus seperti Banjar Nahor, Asriel Tanjung, Anton Leatemia, Robert Taner dan Hadi Tuankotta. Tapi mereka dilupakan begitu saja.
“Dengan Banjar itu di gudang Waitatiri. Kalau Hadi Tuankotta itu juga korban, beban pa Hadi Rp 350 juta belum dibayar oleh Pa Bupati,” terang Hehanussa.
Padahal kalau dikasih ruang oleh Bupati, kata Mat Hehanussa, para donatur ini bisa saja mendapat proyek.
Namun yang terjadi adalah pembohongan setelah komitmen dibangun bersama. “Jadi kacang lupa kulit saja yang terjadi,” katanya.(pom)






