SK MA 63/2026 Diserang Akademisi: PN Tual dan MA Dinilai Gagal Jaga Marwah Peradilan, Sidang Harus Dikembalikan ke Tual

- Publisher

Sunday, 12 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Infomalukunews.com, Tual, 12 April 2026 – Akademisi sekaligus tokoh pemuda Maluku Tenggara dan Kota Tual, Fikry Tamher, melontarkan kecaman keras terhadap Pengadilan Negeri (PN) Tual dan Mahkamah Agung (MA) RI terkait keputusan pemindahan sidang kasus pembunuhan siswa MTs Malra berinisial AT (14) ke PN Ambon.

Pemindahan tersebut tertuang dalam SK Ketua MA Nomor 63/KMA/SK.HK2.1/IV/2026 tertanggal 9 April 2026. Fikry menilai keputusan tersebut sebagai bentuk kegagalan serius dalam menjaga marwah peradilan serta mencederai prinsip keadilan bagi korban.

Menurut Fikry, sejak awal dirinya telah menyuarakan enam tuntutan utama masyarakat, mulai dari transparansi proses hukum hingga perlindungan maksimal bagi keluarga korban. Ia menegaskan bahwa prinsip utama yang harus dijunjung adalah keadilan bagi korban yang tidak bisa ditawar.

“SK MA 63/2026 secara nyata bertentangan dengan prinsip keadilan, terutama dalam hal transparansi, penegakan hukum, dan perlindungan korban,” tegasnya.

Kritik Tajam ke PN Tual

Fikry menilai PN Tual gagal menjalankan perannya sebagai pengadilan tingkat pertama (judex facti). Ia menyebut ada tiga pelanggaran serius yang dilakukan.

Pertama, PN Tual dianggap melanggar asas locus delicti sebagaimana diatur dalam Pasal 84 KUHAP karena tidak mempertahankan kewenangan mengadili perkara yang terjadi di wilayahnya sendiri.

Kedua, PN Tual dinilai mengabaikan fakta sosiologis dan kondisi keamanan di Tual yang sebenarnya kondusif. Ia menegaskan tidak ada kondisi darurat yang mengharuskan pemindahan sidang.

Ketiga, pemindahan sidang ke Ambon sejauh ratusan kilometer dinilai menciptakan hambatan bagi keluarga korban dalam mengakses keadilan, bertentangan dengan prinsip peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan.

“Pengadilan yang tidak berani menyidangkan perkara di wilayahnya sendiri telah gagal secara moral dan doktrinal,” kritiknya.

Sorotan Keras untuk Mahkamah Agung

Tak hanya PN Tual, Mahkamah Agung juga mendapat sorotan tajam. Fikry menyebut terdapat sejumlah kekeliruan fundamental dalam penerbitan SK tersebut.

Ia menilai MA mengabaikan fakta bahwa terdakwa telah diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH), sehingga alasan potensi intervensi institusi menjadi tidak relevan.

Selain itu, MA juga dianggap lalai dalam memverifikasi fakta hukum dan kondisi lapangan sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, hal ini berpotensi menciptakan preseden buruk dalam sistem peradilan.

“MA seharusnya menjadi penjaga keadilan, bukan justru melegitimasi ketakutan. Keputusan ini berbahaya karena memberi kesan pengadilan bisa menghindar dari tekanan publik,” tegas Fikry.

Ia juga menyoroti dampak langsung terhadap keluarga korban yang harus menempuh jarak jauh ke Ambon, yang dinilai sebagai bentuk secondary victimization atau penderitaan tambahan akibat sistem hukum.

Desak Pencabutan SK

Dalam pernyataannya, Fikry secara tegas mendesak Mahkamah Agung untuk segera mencabut SK Nomor 63/2026 dan mengembalikan proses persidangan ke PN Tual.

Ia juga meminta PN Tual menyatakan kesiapan secara resmi untuk mengadili perkara tersebut sesuai dengan kewenangannya.

“Darah korban tumpah di Tual, maka secara hukum dan moral, sidang harus digelar di Tual. Ini bukan soal politik, ini soal keadilan,” ujarnya.

Rekomendasi Akademis

Fikry turut menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya:

PN Tual harus menegaskan kompetensinya dan menjamin sidang terbuka untuk umum.

Mahkamah Agung diminta mencabut SK pemindahan sidang.

Diterbitkannya pedoman agar pemindahan perkara hanya dilakukan dalam kondisi luar biasa dan tidak merugikan korban.

Penegasan Sikap

Menutup pernyataannya, Fikry menegaskan bahwa dirinya bersama elemen masyarakat tidak akan tinggal diam.

“Jika keadilan diabaikan, maka itu adalah bentuk kegagalan negara. Diamnya akademisi adalah matinya keadilan,” pungkasnya.

Ia juga menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan hanya cacat secara hukum, tetapi juga mencederai rasa keadilan publik, khususnya masyarakat Tual dan Maluku Tenggara.(IM-03)

Berita Terkait

Sangkala Soroti Fiskal Maluku: APBD Perubahan 2026 Harus Realistis dan Tepat Sasaran
Kapolres SBB Kerahkan 92 Personel Lokalisir pertikaian Patahuwe-Lisabata, Situasi Kini Kondusif Warga dihimbau menahan diri
Gubernur Maluku Ucapkan Selamat HUT Ke-451 Kota Ambon
Buka Lahan Perkebunan, Taborat Minta Warga Sangliat Krawain Lindungi Hutan
Dosen Poltekkes Maluku Sampaikan Klarifikasi Dan Hak jawab.
Bukan Sekadar Bantuan, Kodam XV/Pattimura Bawa Pesan Persaudaraan dari Maluku untuk NTT
HUT ke-78 Polwan, Kapolda Maluku Dorong Polwan Perkuat Profesionalisme dan Beri Dampak signifikan bagi Masyarakat
 HEBOH Di Poltekkes Maluku! Oknum Dosen Diduga Ancam Warga dan Intimidasi Mahasiswa, Kemenkes Diminta Turun Tangan”
Berita ini 594 kali dibaca

Berita Terkait

Saturday, 19 September 2026 - 23:36 WIT

Sangkala Soroti Fiskal Maluku: APBD Perubahan 2026 Harus Realistis dan Tepat Sasaran

Saturday, 12 September 2026 - 11:23 WIT

Kapolres SBB Kerahkan 92 Personel Lokalisir pertikaian Patahuwe-Lisabata, Situasi Kini Kondusif Warga dihimbau menahan diri

Monday, 7 September 2026 - 18:44 WIT

Gubernur Maluku Ucapkan Selamat HUT Ke-451 Kota Ambon

Monday, 7 September 2026 - 11:29 WIT

Buka Lahan Perkebunan, Taborat Minta Warga Sangliat Krawain Lindungi Hutan

Friday, 4 September 2026 - 15:21 WIT

Dosen Poltekkes Maluku Sampaikan Klarifikasi Dan Hak jawab.

Berita Terbaru

Daerah

Sekot Ambon Ingatkan PPPK: Jalankan Tugas Sesuai Aturan

Tuesday, 22 Sep 2026 - 03:42 WIT