Perempuan Dan Teater Pemilihan Legislasi 

- Publisher

Friday, 19 May 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


IM-Ambon-Theatre is a place and space in which we can dream such large dreams and attempt to realize them, (Jane and Lizbeth). 
Teater merupakan ruang tempat kita bisa bermimpi besar dan berusaha untuk mewujudkannya, Begitu kira-kira makna dari kalimat di atas yang di ungkapkan oleh salah satu anak mudah penikmat Drama Korea, Abe Yanlua.

Ayo teman-teman pencinta drama korea, simak ceritanya hingga akhir.

Abe katakan, kalimat yang dituliskan dalam satu ontology languages of theatre, shaped by women, Membaca kumpulan tulisan pada buku ini, ibarat mendaki dari dunia paling otentik kedunia paling abstrak.

Teater diandaikan sebagai tujuan, semacam distinasi dari bagian paling luar kehidupan kongkrit. Teater kemudian dibayangkan menjadi panggung kedua sebagai panggung pendampingan dari panggung kehidupan nyata.

Tak salah Jane dan Lizbeth, mendaku mengapa perempuan energi seringkali terhalang dalam panggung kehidupan sehari-hari. Memilih panggung teater kedua sebagai tempat untuk berekspresi. Sayangnya seringkali bahasa teater mengambarkan perempuan dalam paras yang takutuh.

Teater semacam ini akan mudah dipahami jika kita melakukan pembacaan dari tempat dimana seorang feminis seperti Irigari, mendaku bahwa perbedaan bahasa laki-laki dan bahasa perempuan dimulai dari titik kita mempersepsikan tubuh sebagi wadah nilai.

Dimana titik itu bermulai pada kebudayaan patriarki kita praktek peminggiran sebagai second class dan stigma terhadap perempuan, Plus praktek misoginis dengan mempermasalahkan keperempuanan.

Dari penampilan hingga masalah domestic. Struktur yang timpang, norma-norma budaya, restriksi kebijakan, hingga agama. Pada keadaan semacam itu seringkali kita menemukan superioritas dari bahas tubuh dan nilai laki-laki sebagai Authority principle of the god, bersamaan disitu kita akan menemukan citra perempuan sebagai The rebellious principle of satan otoritas tuhan dan pemberontakan setan.

Begitu juga dalam teater pemilahn legislasih. Panggung tiater seoalah dihegemoni dalam bahasa tubuh laki-laki. Tokoh perempuan senantiasa minoritas, atau hanya sekedar menjadi kameo, bahkan menjadi figuran.

Akibat Peradaban yang telah berbuat curang kepada separuh umat manusia, hanya karena bukan laki-laki. Sehinga teater legislasi seolah refleksi wajah dari nilai-nilai maskulin. Kalua toh teater bercerita tentang kontestasi pemilu legislasi peran perempuan tak bisah ditonton secara paripurna. Jane dan Lizbeth akhirnya menemukan bahwa plot teater sengaja atau tidak, telah menjadikan bahasa perempuan sebagai bahasa yang samar dan tak mudah dimengerti.

Pertama Hal ini dimungkinkan karena plot yang disusun dalam teater legislasi formal sangat maskulin. Kendati UU No 7/2017, meneyertakan kuota 30 % keterlibatan perempuan pada tiater legislasi (affirmative action) muncul sebagai plot twist.

Sayangnya hal ini hanya berlaku pada tingkatan pusat tidak pada daerah. Kedua partai politik tidak mengakomodasikan strategi dan siasat untuk kandidat perempuan dengan baik. Seringkali yang terjadi kandidat perempuan diletakkan pada nomor urut yang tidak bagus
Laku tiater seperti ini yang justru memenjarakan teater legislasi kedalam gedung sandiwara dan secara bersamaan, nantinya akan memenjarakan setiap orang-orang yang hanya sebagai penonton karena tuntutan oligarkai. Begitu pendakuan Augosta Boal, seorang dramawan, penulis sekaligus, teoritikus teater legislasi.

Augosta boal melanjutkan teorinya. Bahwa kita harus tiba pada teater intransitifi. Dimana teater legislatif akan menjadikan demokrasi yang beku menjadi demokrasi transitif yang memberi ruang terhadap setiap perempuan untuk berpartisipasi secarah penuh. dengan demikian teater legislasi akan menjadi panggung keterlibatan semua pihak.

Jane dan Lizbeth kini masih tetap bermimpi dan berusaha mewujutkannya di atas panggung tiater, kendati sesungguhnya, pada tubuh perempuan, melekat seluruh jenis ketidakadilan, ekonomi, politik, seksual, hukum, kultur, bahkan teologi.

Keduanya mendaku teater merupakan wahana yang dapat mengatasi asosiasi negatife terhadap perempuan dan karena perempuan tak lahir merdeka. karena itu perempuan lahir untuk memerdekakan dirinya.

Dengan begitu perempuan memerdekakan peradaban, sehingga Segenapa ekspresi perempuan harus diangkut keatas teater pemilihan legislasi dalam rangaka memecahkan, atau bahkan sampai keparleman. Jika tidak, teater pemilihan legislasi tak ubahnya sebagai panggung pembantaean.
 
Abe Yanlua
Penikmat Drama Korea. (IM-Kiler).
 

Berita Terkait

DPRD Maluku Ingatkan Pentingnya Realisasi Rekomendasi LKPJ
Polisi Kirim SPDP Kasus Pembunuhan Nus Kei ke Kejaksaan, Penanganan Masuk Tahap Lanjutan
Pemkot Ambon Perkuat Fasilitasi Haji 2026, Manasik Jadi Bekal Kemandirian Jamaah
Bupati SBB Ir. Asri Arman Diduga ‘Tipu Negara’, Lantik Pejabat yang Belum Penuhi Syarat
Fatlolon Dituntut 8 Tahun, Isu Diskriminasi Bayangi Kasus PT Tanimbar Energi
Wali Kota Apresiasi Perumdam Tirta Yapono yang Raih Top BUMD Bintang 4  
Polri Tegaskan Rekrutmen Taruna-Taruni Akpol 2026 Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis
OJK Lantik Pejabat Strategis, Perkuat Pengawasan Sektor Keuangan
Berita ini 459 kali dibaca

Berita Terkait

Saturday, 25 April 2026 - 16:55 WIT

DPRD Maluku Ingatkan Pentingnya Realisasi Rekomendasi LKPJ

Wednesday, 22 April 2026 - 19:39 WIT

Polisi Kirim SPDP Kasus Pembunuhan Nus Kei ke Kejaksaan, Penanganan Masuk Tahap Lanjutan

Friday, 17 April 2026 - 23:12 WIT

Pemkot Ambon Perkuat Fasilitasi Haji 2026, Manasik Jadi Bekal Kemandirian Jamaah

Friday, 17 April 2026 - 08:12 WIT

Bupati SBB Ir. Asri Arman Diduga ‘Tipu Negara’, Lantik Pejabat yang Belum Penuhi Syarat

Friday, 17 April 2026 - 00:12 WIT

Fatlolon Dituntut 8 Tahun, Isu Diskriminasi Bayangi Kasus PT Tanimbar Energi

Berita Terbaru