Dobu-IM;- Pertanian hidroponik di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hidroponik sendiri merupakan sistem bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah. Cara menanamnya menggunakan media yang dicampur larutan nutrisi. Tujuannya agar bisa mencegah hama dan penyakit tanah. Jadi, sistem penanamannya tidak perlu menggunakan pestisida.
Bercocok tanam hidroponik sendiri tidak memerlukan lahan yang luas. Sehingga, cocok untuk siapa saja. Bahkan, jika dibandingkan dengan menggunakan lahan biasa, teknik ini mampu menghasilkan panen lebih banyak. Kualitas panennya pun tergolong sangat bagus, bernutrisi tinggi dan bergizi.
baru baru ini Jemaat GPM Dobo lewat keputusan Sidang Jemaat ke 39 juga dalam mengembangan ekonomi Umat Gereja berfokus ke tanaman hidroponik. pelatihan pun digelar dalam rangka memantapkan pemahaman umat dalam mengembangkan tanaman hidroponik tersebut. setelah dilakukan pelatihan pengembangan hidroponik pun di laksanakan di setiap kelompok dalam sektor maupun pengelolahan secara pribadi dalam umat. Ada sektor yang sudah berhasil menikmati hasil panen hidroponik dan dijual di pasar. tetapi ada yang baru memulai melaksanakan.
selain itu Sektor sektor dalam jemaat GPM Dobo juga dibuat lomba dan dinilai oleh tim Juri dari orang orang yang kredibel. berdasarkan pantauan media ini ke 25 Sektor di lingkup Jemaat GPM Dobo sangat berpartisipasi dalam kegiatan lomba tersebut.
Sementra itu, Info Maluku Menghubungi salah satu pengelolah Hidroponik di sektor Tigris unit 1, Nelci Nyortetma/Mesra. menurutnya, Untuk Hidroponik di Unit 1 yang di tanam adalahbibit Sawi, kangkung, dan bayam kemudian disemai didalam tisyu setelah pecah dipindahkan ke busa sejenis spons.
lanjutnya, awal pembibitan dalam bentuk semai di dalam kertas tisyu kemudian dipindahkan ke busa (sejenis spon) usia tumbuhan minimal 4 hari dipindahkan ke wadah atau tempat yang sudah tersedia (yang sudah di berikan pupuk. kemudian masa panen minimal 28 hari maksimal 30 hari. Nelci berharap pengembangan Hidroponik dapat meningkatkan ekonomi umat ditengah tengah tantangan pandemi Covid 19.( Dedi Weusa)






