IM-Ambon-78 Tahun Indonesia merdeka dari penjajahan baru saja kita peringati pada 17 Agustus 2023 yang lalu, selain itu juga masyarakat Maluku baru saja merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Maluku yang ke 78 tahun yang jatuh pada tanggal 19 Agustus 2022. Akan tetapi anak-anak di Provinsi Maluku masih mengalami Stunting.
Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Padahal seperti yang diketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan, dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Ungkapan itu di sampaikan oleh Rahma Tunny, S.Gz.,M.Kes, dalam rilisnya yang di terima Infomalukunews.com. Selasa 29/08/23 malam.
Menurutnya, pemerintah saat ini harusnya mencegah stunting, hal ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.
“ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.” jelasnya.
Tunny katakan, seringkali masalah-masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan.
“Karena itu, ditegaskan oleh Menkes, kesehatan membutuhkan peran semua sektor dan tatanan masyarakat.” ucapnya
Pola Makan kata Tunny, masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam. Istilah “Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.
“Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.” jelasnya.
Selanjutnya, pola Asuh, stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.
“Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.” kata Tunny menjelaskan.
Bersalin di fasilitas kesehatan, lanjutnya, dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum Air Susu Ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.
Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Ns. Mirdat Hitiyaut, S.Kep.,M.Kep, bahwa perlu juga diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah.
“Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.
Sanitasi dan Akses Air Bersih Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi.” ucapnya
Untuk itu, kata dia, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.
“Selain itu juga, Kebersihan rumah, jumlah penghuni di dalam rumah, kebersihan lingkungan baik pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah rumah tangga perlu diperhatikan.” tandas Hitiyaut.
Di tempat yang sama, Ns. Ernawati Hatwe, S.Kep.,M.Kep juga menjelaskan bahwa, Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu).
“Maka dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya.” harapnya.
Sekilas Mengenai Stunting tambah Hatwe, stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa.
“Hal ini dikarenakan anak stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.” pungkas Hatwe. (IM-06)





