IM, AMBON- Hampir tiga minggu gerbong Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku mulai bergerak sejak mendapat pimpinan baru. Kepala BWS Maluku Marva Ibnu memastikan pihaknya mulai melakukan koordinasi internal dan persiapan konstruksi Bendungan Wai Apo di Kabupaten Buru.
“Jadi 17 hari kerja ini saya belum banyak ke lapangan. Masih koordinasi internal sesuai tupoksi masing-masing. Yakni sejauh mana kegiatan yang sementara berlangsung dan akan berlangsung,” kata Marva Ibnu ditemui infomalukunews.com di ruang kerjanya, Senin (20/7/2020).
Marva Ibnu pantas merasa lega, pasca keluarnya SK Gubernur Maluku soal besaran santunan dan nama-nama penerima santunan yang diserahkan Sekda Maluku Kasrul Selang, tepat sepekan lalu. Dengan begitu, pihaknya sudah bisa fokus ke persiapan pekerjaaan konstruksi Bendungan Wai Apo.
Tinggal bagaimana, kata Marva, santunan tunai melalui rekening bank untuk 40 KK masyarakat adat yang bermukim di sekitar bendungan Wai Apo direalisasikan secepatnya oleh Pemda Kabupaten Buru.
Marva mengaku harus berterimakasih kepada Pemda Provinsi Maluku mapun Pemda Kabupaten Buru yang telah mendukung berbagai proses administrasi menyangkut lahan untuk bendungan yang dibangun guna menunjang Pulau Buru sebagai lumbung pangan Maluku itu.
“Karena bagi kami yang paling penting ada lahan dulu. Soal konstruksi itu bagian kami,” tandas Marva Ibnu.
Menurutnya, pembangunan Bendungan Wai Apo relatif tertinggal, sejak kontrak ditandatangani pada Desember tahun 2017 lalu. Kontrak tersebut akan berakhir tahun 2022 nanti, namun dengan harapan ada penambahan waktu kontrak mengingat waktu yang tersisa tidak cukup untuk fase konstruksi.
Saat ini pembangunan baru masuk fase timbunan yang menurutnya relatif tidak terlalu sulit diselesaikan asalkan keberadaan material di lokasi mencukupi. Apalagi cuaca mendukung pekerjaan di lapangan.
Pimpinan baru BWS Muluku ini juga menambahkan, pemotongan anggaran diKementerian PUPR untuk ikut menghadapi pandemi Covid-19 juga perlu dipertimbangkan.
Sebelumnya di awal tahun 2018 lalu, pekerjaan konstruksi sempat tertunda karena faktor kemahalan bahan. Dengan adanya pandemi maka tantangan pembangunan Bendungan Wai Apo relatif tambah berat.
“Tapi intinya ada pada lahan. Kalau ada lahan kita siap kerja. Sekali lagi konstruksi itu bahagian kami. Sama dengan masalah sosial, yang kami tidak bisa diamkan itu,” tandas Marva Ibnu.(pom)






