IM,PIRU-Dana bantuan untuk warga terimbas gempa bumi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) belum juga ada titik terang, meski seluruh proses administrasi sudah diselesaikan.
Terbukti Bupati Yasin Payapo dan Sekda Mansyur Tuharea ketika bertemu pihak BNPB menyatakan rencana realisasi bantuan tak ada kendala.
Kepala BPBD Provinsi Maluku Hendry Far Far mengaku berdasarkan informasi, Bupati dan Sekda Kabupaten SBB itu dua minggu lalu ke BNPB.
Di BNPB keduanya menjanjikan, Senin (5/4/2021) dana bantuan untuk kelompok Mandiri sebanyak 284 KK, namun ternyata penyaluran dana tersebut belum juga dilakukan.
“Bupati dan Sekda jelaskan buat pak Deputi di BNPB bahwa semua aman-aman saja di lapangan. Ternyata sampai hari ini dana msyarakat belum dibayarkan untuk mereka,” jelas Far Far
Menurutnya proses pencairan dana bencana alam itu sudah disepakati untuk dilakukan setelah melewati proses verifikasi dan validasi berkas administrasi yang cukup lama.
“Katong sudah rapat dan sepakat untuk prosesnya tapi sampe hari ini belum juga. Kasihan ketong pung masyarakat ya… waduhhh,” ujar Far Far dengan nada sesal.
Nestapa warga terimbas gempa di Kabupaten SBB seakan tak dirasakan oleh Pemkab SBB.
Namun yang tak kalah miris, penantian 1306 KK warga terhadap dana bantuan diduga ikut dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggungjawab.
Dengan dalih untuk memperlancar pencairan dana bantuan perbaikan rumah-rumah mereka yang rusak, warga dipungut biaya administrasi.
“Perjanjian bulan ini bayar, makanya dong ada minta biaya administrasi lagi. Tiap orang dalam satu kelompok, Rp 100 ribu,” kata Ny Adiyat Aholo Selasa (16/3/2021).
Warga Desa Waitasik Kecamatan Kairatu Kabupaten SBB ini menjelaskan biaya administrasi tersebut dipungut atas persetujuan ketua kelompoknya, yang memiliki anggota 11 orang.
Sementara seluruh persyaratan administrasi telah dipenuhi pihaknya, meski relatif sukar dipenuhi karena membutuhkan biaya untuk pengurusannya.
Ny Adiyat mengaku cukup lama menunggu bantuan dana itu dikucurkan ke warga yang berhak seperti dirinya.
“Sampai ini katong belum dapat-dapat dana itu lae, jangan cuma janji,” sesal Ny Adiyat.
Diakui, karena jenuh menunggu lama, akhirnya dia berinisiatif memperbaiki rumahnya yang rusak berat dengan biaya sendiri.
Sebelumnya Bendahara BPBD Kabupaten SBB La Ucu mengaku, dana senilai Rp 30,965 miliar telah ditransfer BNPB ke rekening Pemkab SBB.
“Dananya masih di BNI,” kata La Ucu singkat.
Agus, yang juga staf Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB mengaku berkali-kali meminta penjelasan terkait keterlambatan realisasi dana itu.
Yang anehnya, setiap dikonfirmasi pihak BPBD Kabupaten SBB mengaku tidak ada kendala apa pun untuk pengucuran dana itu.(pom)






