Jumat Agung: “Gereja Basar” Oleh DR Johan Saimima. Dosen Sejarah Gereja Fakultas Teologia UKIM.

- Publisher

Saturday, 3 April 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masa kanak-kanak sampai masa remaja adalah masa saya dibesarkan di Kampung Siri Sori Amalatu, Kecamatan Saparua. Boleh dibilang “Anak Kampung” adalah sebuah istilah yang akrab dikenakan kepada mereka yang besar di kampung.

Tradisi kampung melekat kuat dalam diri saya. Melihat, mendengar, dan melakukan tradisi kampung adalah sesuatu yang lazim. Mainan-mainan tradisional anak-anak kampung yang dimainkan pun berbeda dengan mainan-mainan ala modern anak-anak zaman sekarang, misalnya, “handphone”.

Salah satu tradisi yang kuat dikenang dalam memori adalah tradisi “Gereja Basar”. Masa itu, sebagai anak yang belum menerima Sidi Baru, pada malam hari sebelum Ibadah “Gereja Basar”, kami diingatkan oleh orangtua kami: “Besok mau gereja basar (besok ibadah Jumat Agung), jangan kemana-mana dan seng boleh main di luar rumah sampai gereja kaluar (tidak boleh ke mana-mana dan main di luar rumah sampai ibadah berakhir)! Pintu rumah dan jendela harus tertutup, jangan dibuka sebelum ibadah berakhir! Tidak boleh ribut di rumah selama ibadah masih berlangsung di gereja! Ini Gereja Basar bukan gereja biasa.”

Sebagai anak, kami ikut saja apa yang diperintahkan orang tua. Kami tidak bisa melawan dan bertanya panjang lebar kepada mereka. Seiring waktu berjalan sampai saat ini, saya lalu berusaha untuk memahami mengapa sampai orang tua kami menyebutnya dengan “Gereja Basar”.

Ternyata orang tua semasa di kampung dibentuk dengan pemahaman teologi tentang Ibadah Jumat Agung sebagai Gereja Basar, karena ibadah ini adalah perayaan khusus sebelum Paskah yang berbeda dengan ibadah rutin lainnya. Ibadah Jumat Agung adalah Ibadah sebelum Paskah untuk memperingati pengorbanan Yesus Kristus yang mati di tiang kayu salib, di Golgota, bagi penebusan umat manusia yang berdosa.

Dalam ibadah Jumat Agung, Perjamuan Kudus dilayankan sebagai bentuk peringatan akan tubuh dan darah Kristus yang hancur dan tercurah membasuh dosa-dosa manusia. Melalui pengorbanan Kristus di kayu Salib, manusia yang telah rusak hubungannya dengan sesama manusia didamaikan untuk kembali bersatu, termasuk pendamaian hubungan antara manusia dengan Allah yang sudah rusak karena dosa.

Catatan Sejarah Gereja, menurut informasi Kompas (berita online) sampai abad ke-4, mengungkapkan bahwa perjamuan terakhir Yesus, kematiannya, dan kebangkitannya diperingati dalam satu rangkaian tunggal pada malam sebelum Paskah. Sejak saat itu, ketiga peristiwa itu dirayakan dalam rangkaian Paskah, sebagai peringatan kebangkitan Yesus yang dianggap sebagai peristiwa terpenting bagi umat Kristiani.

Menurut Katekismus Baltimore, teks standar sekolah Katolik AS dari 1885 hingga 1960-an, sebagaimana dilansir Kompas (berita online) menyebutkan bahwa Jumat Agung atau “Good Friday” untuk hari Jumat sebelum perayaan Paskah adalah karena Kristus “menunjukkan kasihNya yang besar kepada manusia dan menggenapi karya penebusanNya bagi umat manusia yang berdosa.”

Penjelasan Jumat Agung sedemikian sesungguhnya mendapat penghayatan secara penuh oleh orang tua di kampung kami. Mereka mengikuti ibadah secara khusuk. Bahkan, diri mereka disiapkan secara baik seminggu sebelum Ibadah Jumat Agung. Sebelum mengikuti ibadah perhadliran sebagai bentuk pengakuan terkait kesiapan mengikuti Jumat Agung, mereka sudah menyiapkan diri secara baik atau tidak boleh berbuat salah, yang dianggap sebagai dosa. Jika ada kesalahan yang dirasa telah dibuat, misalnya pertengkaran suami-istri di rumah, mereka tidak akan siap untuk mengikuti Jumat Agung.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kesiapan diri mengikuti Jumat Agung, yang di dalamnya mereka akan memperingati pengorbanan Kristus lewat makan Perjamuan Kudus, adalah tidak asal-asalan. Mereka benar-benar menyiapkan diri baik secara jasmani maupun rohani. Anak-anak juga harus mendukung orang tua mereka yang mengikuti Jumat Agung dengan berdiam diri dan tetap tenang di dalam rumah. Pemahaman dan praktik Jumat Agung sedemikian tidaklah kolot jika dipandang dari perspektif modern. Sebab, persiapan yang sedemikian mengandung daya spiritual tinggi terungkap dalam pemahaman dan praktik mereka tentang Gereja Basar. Terima kasih bagi para orang tua yang sudah membesarkan saya dengan hikmat kampung sedemikian.

Selamat merayakan Jumat Agung, 2 April 2021, kepada seluruh Umat Kristen. Kiranya damai selalu melingkupi seluruh hidup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara kita tercinta, Indonesia.

Berita Terkait

Polisi Kirim SPDP Kasus Pembunuhan Nus Kei ke Kejaksaan, Penanganan Masuk Tahap Lanjutan
Pemkot Ambon Perkuat Fasilitasi Haji 2026, Manasik Jadi Bekal Kemandirian Jamaah
Bupati SBB Ir. Asri Arman Diduga ‘Tipu Negara’, Lantik Pejabat yang Belum Penuhi Syarat
Fatlolon Dituntut 8 Tahun, Isu Diskriminasi Bayangi Kasus PT Tanimbar Energi
Wali Kota Apresiasi Perumdam Tirta Yapono yang Raih Top BUMD Bintang 4  
Polri Tegaskan Rekrutmen Taruna-Taruni Akpol 2026 Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis
OJK Lantik Pejabat Strategis, Perkuat Pengawasan Sektor Keuangan
Kapolres SBB: Tak Ada Ampun! Pelaku dan Provokator Konflik Ani–Pawae Tetap Diproses Hukum
Berita ini 612 kali dibaca

Berita Terkait

Wednesday, 22 April 2026 - 19:39 WIT

Polisi Kirim SPDP Kasus Pembunuhan Nus Kei ke Kejaksaan, Penanganan Masuk Tahap Lanjutan

Friday, 17 April 2026 - 23:12 WIT

Pemkot Ambon Perkuat Fasilitasi Haji 2026, Manasik Jadi Bekal Kemandirian Jamaah

Friday, 17 April 2026 - 08:12 WIT

Bupati SBB Ir. Asri Arman Diduga ‘Tipu Negara’, Lantik Pejabat yang Belum Penuhi Syarat

Friday, 17 April 2026 - 00:12 WIT

Fatlolon Dituntut 8 Tahun, Isu Diskriminasi Bayangi Kasus PT Tanimbar Energi

Wednesday, 15 April 2026 - 12:27 WIT

Wali Kota Apresiasi Perumdam Tirta Yapono yang Raih Top BUMD Bintang 4  

Berita Terbaru

Daerah

DPRD Maluku Ingatkan Pentingnya Realisasi Rekomendasi LKPJ

Friday, 24 Apr 2026 - 03:54 WIT

Daerah

Proyek Jalan Namlea Disorot, Tujuh Pihak Jalani Pemeriksaan

Friday, 24 Apr 2026 - 03:48 WIT

Daerah

Kota Ambon Masuk 10 Besar Kota Toleran di Indonesia Tahun 2025

Thursday, 23 Apr 2026 - 20:16 WIT