IM- Laala,– Di Duga Salah Seorang Oknum yang mengaku Wartawan yang berinisal FP yang datang ke lokasi pembangunan Talut penahan banjir di Dusun Laala, Desa Loki Kec. Huamual, Kab. Seram Bagian Barat, dalam melakukan tugas jurnalitik dengan pengaruh minuman keras ( Miras ). Berujung salah paham dan terjadi adu mulut dengan Pihak PT. Sarjis Agung Indra Jaya.(10/06/2023 ).
Kejadian ini berawal saat sang Oknum tersebut datang ke lokasi proyek pada malam hari 09/06/2023 guna menggali informasi terkait pelaksanaan pembangunan talut penahan banjir yang merupakan tugasnya sebagai jurnalis, namun Karena tidak mahami mekanisme sistim konstruksi pembangunan talut dan di duga pengaruh miras sehingga terjadi adu mulut dan salah paham dengan pihak PT. SAIJ, beruntung saat adu mulut tersebut datang sekertaris Dusun Laala Desa. Loki Kec. Huamual Kab. Seram Bagian Barat yang melerai dan meminta agar FP meninggalkan lokasi proyek tersebut, sehingga tidak terjadi hal – hal tidak di inginkan terjadi.
Saat media infomalunews.com mendapat informasi tersebut dan langsung terjun ke lokasi tersebut, mendapatkan penjelasan baik dari pihak Perusahaan maupun sang Sekertaris Dusun Laala, menurut kesaksian dari pihak perusahaan dan sekertaris Dusun bahwa kejadian ini berawal saat yang bersangkutan datang dan mengambil gambar serta berkomunikasi dengan pihak perusahaan terkait pembangunan talut sepertinya FP sudah mengkonsumsi Miras, saat berkomunikasi FP karena kurang memahami maksud dari penjelasan pihak perusahan FP mulai emosi dan berkomentar agak ngaur sehingga terjadi adu mulut dan saat terjadi adu mulut itulah terlihat FP membawa botol yang berisi miras yang di simpan di dalam bajunya.
Kepada Media Info malukunews.com, Ajdi Wibowo, Kepala logistik PT.SAIJ, sangat menyesalkan kejadian tadi malam. “Saya sangat menyesalkan kejadian tadi malam, tetapi tadi pagi Oknum yang mengaku Wartawan tersebut sudah datang dan meminta maaf atas kekhilafannya, dan kami sudah maafkan, kami sangat berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, masih ada ruang komunikasi yang dapat kita bicarakan, kehadiran kami di sini bukan hanya mengejar proyek tetapi kami juga ingin membantu pihak masyarakat di dusun Laala” sesal Wibowo.
Wibowo juga menjelaskan bahwa pembagunan talut ini, di dalam kontrak hanya 1.400 M² tetapi rencananya kami akan buat 2.000M², hal ini kami bijaki untuk menambah 600M² karena kami melihat bahwa untuk mengatasi banjir tersebut seharusnya pembangunan talut idealnya sekitar 5.000M² tetapi kami tidak dapat membangun sebanyak itu, kami hanya mampu menambah 600M² sesuai kemampuan kami, demi rasa cinta kami kepada masyarakat Dusun Laala”. Ucap Wibowo.
“Kami juga sangat menyesalkan adanya pemberitaan media yang menyudutkan pihak Perusahaan tanpa konfirmasi terlebih dahulu atau menimal datang ke lokasi kerja dan melihat langsung fakta yang terjadi di lapangan seperti apa”.Sesal Wibowo.
Kepada media ini, Rusli Tamin.ST, pimpro PT. SAIJ menjelaskan bahwa “sistim konstruksi Talud menggunakan Sistim Cor beton dengan sistim tiang pancang dengan kedalaman 4M sedangkan kedalaman fondasi cor beton sedalam 2,5M dan tinggi 3,6M dengan Spesifikasi pondasi kopor beton 60% Batu jenis Cadas Ukuran Kelapa dan 40% beton campuran”. Ujar Tamin Menjelaskan, pekerjaan ini sudah mencapai 50%.
Saat ini kami, bekerja sampai lebur malam karena berdasarkan koordinasi dengan BMKG kemungkinan Besar akan ada musim penghujan di bulan juli/agustus pada saat musim barat tiba.
Untuk memastikan kebenaran dari penjelasan Tamin, Awak media infomalukunews.com turun langsung ke lokasi pekerjaan untuk mengecek langsung proses pekerjaan tersebut apakah sudah sesuai dengan pernyataannya dan kontrak berdasarkan RAB atau tidak.
Dari hasil tinjauan tersebut terdapat beberapa kendala yang harus di sikapi di antarannya adalah akibat rendahnya jembatan penyeberangan sehingga menghalangi debit material sertu yang hanyut di bawa arus air sebingga menyumbat jembatan dan apabila terjadi banjir maka air akan meluap ke area yang lebih rendah, sehingga di harapkan kepada pemerintah daerah agar dapat membangun jembatan baru yang lebih tinggi, selain itu yang menjadi penghambat proses pekerjaan adalah proses normalisasi dan pengangkutan material yang dapat menyumpal jembatan dan harus di pindahkan ke are lain.
Hal ini juga menambah kosh anggaran yang tidak sedikit,
Serta untuk mengamankan lokasi terdampak banjir di Dusun Laala, maka pemerintah juga harus menambah folume Talud minimal sampai dengan 5000M dan di lakulan reboisasi terhadap hutan yang gundul akibat penebangan liar di masa lampau.(IM.KR).






