Infomaukunews.com,Ambon — Bursa calon Ketua DPD Partai Demokrat Maluku mulai menghangat menjelang Musyawarah Daerah (Musda) yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang. Tiga nama tersebut memiliki peluang untuk merebut kursi pimpinan Demokrat Maluku, yakni M. Thaher Hanubun, Ir Asri Arman, dan Halimun Saulatu SE,M.Si.
Pertarungan ini diprediksi tidak sekadar menjadi adu popularitas. Para kandidat harus memiliki kemampuan membangun komunikasi lintas wilayah, mengonsolidasikan kader, serta memastikan seluruh struktur partai di 11 kabupaten/kota merasa menjadi bagian penting dari organisasi.
Halimun Saulatu, misalnya, memiliki pengalaman politik yang cukup panjang. Dua periode sebagai anggota DPRD Maluku Tengah dan dua periode di DPRD Provinsi Maluku menjadi modal penting untuk memahami dinamika politik dan karakter kader Demokrat di berbagai wilayah.
Lebih dari sekadar memenangkan Musda, Ketua Demokrat Maluku terpilih nantinya menghadapi tugas besar memperkuat struktur partai, menjaga soliditas kader, serta menyiapkan mesin politik menghadapi agenda politik mendatang.
Popularitas kandidat memang menjadi modal penting. Namun dalam pertarungan organisasi partai, popularitas saja tidak cukup.
Kandidat harus mampu membangun konsolidasi, menjaga komunikasi dengan kader, meyakinkan pemilik suara di daerah, sekaligus membangun komunikasi dengan struktur Demokrat di tingkat pusat.
Dengan kata lain, Musda Demokrat Maluku bukan hanya pertarungan tiga nama. Ini adalah pertarungan tiga jaringan politik di daerah maupun di pusat.
Thaher memiliki modal pengalaman sebagai kepala daerah.
Ir Asri Arman memiliki pengalaman tiga periode di parlemen sekaligus pengalaman sebagai kepala daerah.
Sementara Halimun memiliki pengalaman legislatif serta akses ke struktur Demokrat melalui posisinya di internal partai.
Yang membuat bursa ini semakin menarik adalah isu mengenai komunikasi politik para kandidat dengan elite Partai Demokrat di Jakarta.
Nama Thaher Hanubun dan Halimun Saulatu disebut-sebut memiliki jalur komunikasi yang cukup kuat dengan lingkaran elite Demokrat di tingkat pusat, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Namun hingga kini, belum ada pernyataan terbuka dari Thaher maupun Halimun mengenai ambisi mereka merebut kursi Ketua DPD Demokrat Maluku.
Keduanya masih terkesan berhati-hati dalam membaca situasi.
Justru sikap tersebut membuat peta pertarungan semakin sulit ditebak.
Jika ketiganya benar-benar maju, setidaknya ada tiga pertanyaan besar yang akan menentukan arah Musda.
Siapa yang mampu menguasai dukungan 11 DPC?
Siapa yang paling kuat mengonsolidasikan kader?
Dan yang tidak kalah penting, siapa yang mampu meyakinkan elite Demokrat di Jakarta?
Jawaban atas tiga pertanyaan tersebut akan menjadi kunci siapa yang berpeluang besar meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Demokrat Maluku.
Satu hal yang pasti, Musda Demokrat Maluku Oktober mendatang berpotensi menjadi salah satu pertarungan politik internal paling menarik di Maluku.
Tiga nama mulai muncul. Satu kursi diperebutkan.
Sebelas DPC menjadi medan pertarungan.
Dan ketika palu Musda diketuk, seluruh kalkulasi politik akan diuji.
Thaher, Asri, atau Halimun?
Siapa yang akhirnya menguasai Demokrat Maluku?







