Infomalukunews.com. Ambon–Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Haulussy, dr. Novita E. Nikijuluw, membantah pemberitaan yang menyebutkan pelayanan rumah sakit, khususnya Instalasi Gizi di RSUD Haulussy, nyaris lumpuh total akibat kekurangan tenaga.
Pihak rumah sakit menegaskan bahwa pelayanan gizi kepada pasien tetap berjalan normal dan sesuai standar yang berlaku.
“Instalasi gizi melayani pasien lima kali sehari, yakni makan pagi, snack pagi, makan siang, snack sore (khusus kelas I), dan makan malam. Pelayanan ini berjalan setiap hari,” ujar dr. Novita kepada Infomalukunews.com, di ruang kerjanya, Selasa (20/01/2026).
Ia menjelaskan, jumlah tenaga di Instalasi Gizi RSUD Haulussy saat ini sebanyak 39 orang, dengan sekitar 21 tenaga ahli gizi, termasuk Kepala Instalasi Gizi dan tenaga pada subdivisi.
“Khusus pelayanan rawat inap, sembilan tenaga ahli gizi diposkan di berbagai ruangan perawatan, untuk melakukan penilaian dan asuhan gizi pasien sesuai arahan dokter penanggung jawab,” jelasnya.
Dr. Novita juga meluruskan informasi terkait tenaga pendukung. Menurutnya, Instalasi Gizi memiliki tiga tenaga pengantar (dorong) makanan yang bekerja sesuai sistem shift.
Selain itu, tersedia tenaga pencuci peralatan, pramusaji, serta tenaga masak sebanyak delapan orang, dengan pembagian dua shift per hari, masing-masing empat orang, yang bekerja selama 12 jam.
“Jadi informasi yang menyebutkan tidak adanya tenaga pengantar makanan, tenaga pencuci peralatan, pramusaji, maupun tenaga masak tidak sesuai dengan fakta,” tegasnya.
Terkait klaim keterlambatan atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar pasien, pihak rumah sakit memastikan bahwa penyajian makanan telah terstandarisasi, baik dari sisi menu, sarana, maupun alur pelayanan, serta dilaksanakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Instalasi Gizi.
Meski demikian, manajemen RSUD Haulussy mengaku tetap terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan layanan. Namun, dr. Novita meminta agar informasi yang disampaikan ke publik berdasarkan data dan kondisi riil di lapangan, sehingga tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat.
Sebelumnya diberitakan, pelayanan RSUD Haulussy Ambon dinilai berada pada titik terendah dan kian memprihatinkan. Bahkan, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, diminta untuk mencopot Plt Direktur RSUD Haulussy dari jabatannya.
Buruknya pelayanan rumah sakit rujukan milik Pemerintah Provinsi Maluku, itu disebut terutama terjadi di Instalasi Gizi yang dinilai nyaris lumpuh total.
Rumah sakit tersebut juga dituding tidak memiliki tenaga pendukung yang memadai, sehingga berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar pasien, termasuk keterlambatan dan ketidaklayakan penyajian makanan. (IM-06).





