Infomalukunews.com,
Dobo- Kegiatan Semarak Budaya Kabupaten Kepulauaan Aru dibuka oleh Bupati Timotius Kaidel Minggu 26 Oktober 2026.
Hadir pada kegiatan tersebut Ibu Mercy Chriesty Barends, ST, Anggota DPR RI, Fraksi PDI Perjuangan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Kepulauan Aru, Ketua DPRD Peny Loy,
Staf Ahli Bupati, Asisten Sekda dan Pimpinan Perangkat Daerah di lingkup Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru yang berkenan hadir, Para Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Pemuda, Organisasi Wanita, Para Tokoh Masyarakat, Pemuka Agama, Pemuka Adat, Tokoh Perempuan dan Tokoh Pemua
Bupati Timotus Kaidel mengawali sambutannya mengajak semua untuk mengucapkan Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebab atas perlindungan dan perkenan-Nya, kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan Kesehatan, sehingga dapat hadir bersama-sama dalam kegiatan “Semarak Budaya di Kabupaten Kepulauan Aru”.

Pemerintah Kabupaten Daerah, menyampaikan ucapan selamat datang kepada ibu Mercy Barends dan jajaran, yang telah menyempatkan waktu untuk datang ke daerah kita bersama. Dan terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam rangka mempersiapkan acara ini. Kata Kaidel.
Lanjut Kaidel, Saat kita berbicara tentang “semarak budaya,” sering kali kita hanya membayangkan tarian indah, musik yang merdu, atau pakaian adat yang megah. Tentu, itu adalah manifestasi yang wajib kita lestarikan.
Namun, izinkan saya mengajak kita merenung lebih dalam: Apa makna sejati kebudayaan bagi Kepulauan Aru ?
Kebudayaan bukanlah sekadar komoditas untuk tontonan turis. Ia adalah Sistem Nilai. Ia adalah peta jalan yang dibentuk oleh ratusan generasi, yang mengajarkan kita cara hidup yang benar, cara berinteraksi dengan alam, dan cara menyelesaikan konflik dengan bijaksana.
Mari kita sejenak berdialog dengan masa lalu. Sejarah kita bukan hanya tentang tanggal dan peristiwa, melainkan tentang nilai-nila yang diwariskan oleh leluhur. Dua pilar utama yang membentuk karakter Aru adalah hubungan kita dengan alam dan hubungan kita dengan sesama.
Ketika kita berbicara tentang Aru, kita berbicara tentang air dan hutan. Para leluhur kita telah mengajarkan cara hidup berkelanjutan yang sangat maju, jauh sebelum dunia mengenal istilah sustainable development.
lanjut Kaidel, Saya merujuk pada praktik Sasi. Sasi adalah sistem larangan adat, entah itu di laut untuk komoditas seperti teripang, atau di darat untuk hasil hutan tertentu. Sasi adalah hukum konservasi yang dijalankan dengan kepatuhan spiritual. Ketika Sasi dibuka, kita merayakan panen raya, bersyukur kepada Leluhur/Tuhan atas rezeki yang diberikan.
Kepulauan Aru, oleh para leluhur, disebut Jargaria. Di sini, kita memiliki filsafat sosial yang kuat : Sitakaka Walike. Ini adalah esensi persaudaraan, solidaritas, dan kebersamaan yang terjalin erat, melampaui sekat-sekat marga (fam) dan bahkan agama.
Kita tahu, masyarakat Aru mayoritas memeluk Islam dan Kristen. Namun, dalam ritual adat, dalam setiap perayaan, kita selalu bersatu. Kerukunan umat beragama di Aru adalah pondasi utama pembangunan. Ketertiban dan keamanan yang kondusif di Bumi Jargaria adalah kunci sukses kita. Ini bukan hanya tugas aparat, ini adalah tanggung jawab kolektif yang berakar dari Sitakaka Walike itu sendiri. Keharmonisan ini adalah kekayaan kita yang tak ternilai.
Sebagai wilayah kepulauan, kita adalah bangsa maritim sejati. Budaya kita adalah budaya laut. Kita harus lainnya untuk menggunakan acara budaya nasional dan mempromosikan Aru di kancah internasional. Kita tunjukkan bahwa Aru, sebagai salah satu pulau terdepan, adalah benteng budaya yang kuat, yang aktif berkontribusi pada keragaman budaya Indonesia.
Semarak budaya yang kita laksanakan hari ini, berupa dialoag dan refleksi budaya, adalah upaya meneguhkan jati diri sebagai Putra putri Aru. Ini adalah janji kita kepada leluhur dan amanah untuk anak cucu. Dedi W/IM






