Oleh .Laki – Laki Alifuru Kaleb W Risaputty.
Infomalukunews.com, Piru SBB,- Bila di lihat dari sudut pandang bahasa Indonesia yang baik dan benar maka kata BANGKIT yang artinya suatu ungkapan terhadap Makhluk Hidup yang telah mati.
Ketika Propinsi lain di Indonesia berloma – lomba membangun daerahnya dengan berbagai cara dan strategi, Maluku lebih di sibukan dengan hal – hal yang remeh temeh dengan, saling bercibaku dengan kepentingan etnis, golongan maupun sekelompok oknum manusia dalam mempertahankan citra diri dan meningkatkan elektabilitasnya dengan cara yang sangat tidak beretika ibarat Ruh orang Mati yang bergentayangan disaat malam tiba, namun hilang lenyap ketika cahaya sang Surya terbit di ufuk timur gunung sembilan.
Maluku dikenal dengan negeri raja – raja, tetapi sangat di sayangkan para raja -raja tidak pernah memahami arti dari persatuan yg telah di rangkumkan dalam sebuah kesatuan dan falsafah hidup berbangsa dan bernegara, yaitu PANCASILA dan BINEKA TUNGGAL IKA …..
apalah artinya warisan leluhur kita yang di tinggalkan bagi anak cucu di masa lalu yaitu hidup orang sudara, ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging dalam hidup PELA GANDONG.
Sebelum bapak – bapak bangsa ini memploklamirkan arti dari Nusantara dalam ikatan persatuan dan kesatuan bernegara, Maluku sudah jauh lebih dulu mempraktekan falsafah ini sejak berabad – abad yang lalu.
Ketika Indonesia belum mengenal kejamnya sistem kolonialisme dan penjajahan, Maluku sudah lebih dahulu merasakan sakit dan kejamnya sistem kolonial serta penjajahan dalam menguasai harta dan kekayaan yang di miliki oleh Maluku.
Atas kesadaran itulah Maluku yang di kenal dengan julukan Bangsa Alifuru mengangkat senjata dengan keberanian dan keperkasaan, putra – putri maluku dengan gagah berani melawan penindasan dan kesaliman para penjajah.
Tidak semua tercatat dalam sejarah dan di ajarkan kepada generasi Indonesia bahwa bagaimana Para lehuhur Maluku Seperti Thomas Matulessy Pahlawan Patimura berjuang dalam berbagai perang besar dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa Alifuru dalam menjalani kehidupan di saat itu, Putra – Putri Maluku tetap bangga dengan kehebatan para leluhurnya dalam cerita dan tuturan dari jaman ke jaman seolah sebuah mitos dan bunga tidur dalam menginabobokan anak kekasih yg tidur dalam pelukan keperkasaan sang laki – laki besar yang garang tetapi memiliki hati yang tulus seputih Patih sagu.
Tetapi apalah artinya semua kebesaran dan keperkasaan para leluhur kita?.
jika hal itu hanya di dengungkan dan di hembuskan di saat kita para Patimura Muda duduk dan di temani dengan ruas – ruas bambu sageru tanpa membuka mata dan melihat keluar jendela bahwa Dunia ini sudah berubah jauh dan kita di tantang untuk berkompetisi dalam mempertahankan eksistensi kemurnian serta keperkasaan kita seperti para leluhur dalam menjawab tantangan jaman yang tidak lagi bersahabat seperti kekarnya pohon sagu dan gagahnya pohon mayang yang membentang luas dan memanjakan kehidupan dan merubah nestapa dengan kemuliaan.
Ketika kekayaan kita pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit di kuras dan di bawah keluar untuk menghidupi dan memuaskan hawa nafsu dan kerakusan para pembesar yang berkuasa dengan gaya kolonialisme moderen, kita hanya duduk diam dengan saling menyalahkan dan menjasrifikasi masing – masing kita, padahal mereka – mereka sedang merancang sesuatu dan duduk manis sambil bertepuk tangan melihat bagaimana kita saling menyalahkan dan menjatuhkan demi mengais remah – remah kekayaan kita yang jatuh dari atas meja mereka – mereka yang penuh dengan kelimpahan akan harta yang mereka keruk.
Kapan kita sadar?….wahai laki – laki perkasa…
Apakah dengan saling menjatuhkan akan dapat membalikan keadaan?….tidak ….sekali lagi tidak….
Hanya dengan semangat PELA GANDONG kita dapat bangkit dari kematian panjang dan menghidupkan tulang – tulang kering serta berdiri sejajar tanpa ada lagi kepentingan kelompok, etnis dan golongan.
Kita maju bersama untuk memperjuangkan masa depan anak cucu dan generasi kita untuk maju jauh kedepan untuk dapat mengalahkan kuatnya gelombang Tanjung Alang, dan menaklukan tingginya gunung sembilan.
Maluku masih punya harapan karena kita itu satu BETA MALUKU, PELE PUTUS MALINTANG PATAH.. (**)







