Infomalukunews.com,SBB — Penyidik Polres Seram Bagian Barat (SBB) mendatangi Rumah Sakit Bakti Rahayu Ambon untuk mengambil keterangan dari Rafli Bufakar, korban penyerangan dan pembacokan yang terjadi di Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat. Pemeriksaan dilakukan pada Rabu, 3 Juni 2026, sebagai bagian dari proses penyidikan untuk mengungkap secara utuh peristiwa yang mengakibatkan korban mengalami luka berat.
Tim penyidik yang dipimpin Kanit Tindak Pidana Umum (Tipidum) Polres SBB, Ipda Komang Arjaya, meminta keterangan langsung dari Rafli yang masih menjalani perawatan medis. Kesaksian korban dinilai penting untuk memperkuat alat bukti sekaligus mengidentifikasi seluruh pihak yang diduga terlibat dalam aksi penyerangan tersebut.
Dalam keterangannya, Rafli mengungkapkan bahwa kelompok yang diduga menyerangnya datang secara berkelompok menggunakan sejumlah sepeda motor. Menurut dia, terdapat lebih dari empat sepeda motor yang digunakan dan seluruh pengendara datang berboncengan.
“Yang saya lihat mereka datang menggunakan beberapa motor. Semua berboncengan dan membawa parang,” ujar Rafli kepada penyidik.
Rafli menjelaskan, sebelum kejadian dirinya sedang beristirahat dan telah tertidur. Namun ia terbangun setelah mendengar keributan di sekitar lingkungan rumahnya di Dusun Tanah Goyang.
Saat keluar rumah, ia mengetahui adanya cekcok yang melibatkan dua pemuda dari Dusun Siaputih. Pada saat itu, Rafli mengaku tidak mengetahui adanya persoalan yang melibatkan pemuda dari Desa Ariate.
“Saya tidak tahu kalau ada masalah dengan pemuda Ariate. Yang saya tahu hanya ada cekcok yang melibatkan pemuda Siaputih,” katanya.
Dalam situasi tersebut, Rafli mengaku sempat membantu mengamankan salah seorang warga yang menjadi korban keributan ke salah satu rumah warga guna menghindari kemungkinan terjadinya aksi kekerasan lanjutan.
Tidak lama kemudian, ia mendapat informasi bahwa terdapat ketegangan lain yang melibatkan sejumlah pemuda dari Desa Ariate. Menyikapi situasi itu, Rafli bersama Kepala Dusun Tanah Goyang Jusmin Papalia, Kepala Pemuda Sardi Loilatu, dan Amir Rahayaan berinisiatif menuju Pos Polisi Subsektor Laala.
Menurut Rafli, tujuan mereka menuju pos polisi adalah untuk melaporkan kejadian yang terjadi sekaligus meminta aparat keamanan segera mengambil langkah penyelesaian agar konflik tidak berkembang menjadi lebih besar.
Namun sebelum tiba di Pos Polisi Laala, rombongan tersebut melihat sejumlah sepeda motor melaju dari arah Siaputih menuju ke arah mereka. Saat itu, Kepala Pemuda Sardi Loilatu disebut sempat berteriak memperingatkan bahwa kelompok yang datang merupakan pemuda asal Ariate.
Menyadari situasi yang berpotensi membahayakan, mereka berusaha memutar arah. Akan tetapi, kondisi kendaraan yang digunakan membuat upaya tersebut tidak berjalan cepat.
Rafli yang saat itu dibonceng Kepala Dusun Jusmin Papalia akhirnya turun dari sepeda motor dan berusaha menyelamatkan diri.
“Saya turun dari motor dan lari, namun mereka sudah dekat. Lalu saya langsung dibacok dari belakang,” ujar Rafli.
Setelah terkena serangan pertama, Rafli berusaha menghindar ke pinggir jalan. Namun salah satu pelaku terus mengejarnya. Dalam upaya menyelamatkan diri tersebut, Rafli terjatuh akibat kondisi jalan yang becek.
Saat berada di tanah, Rafli mengaku mendengar teriakan dari salah seorang pemuda yang berada di atas sepeda motor kepada pelaku yang sedang mengejarnya.
“Bunuh yang itu,” kata Rafli menirukan teriakan yang didengarnya sesaat sebelum serangan kembali terjadi.
Menurut Rafli, setelah terjatuh dirinya kembali menjadi sasaran pembacokan. Tebasan parang mengenai bagian wajah hingga menyebabkan luka serius pada kepala dan telinga. Akibat serangan tersebut, telinga korban mengalami luka parah.
Serangan tidak berhenti sampai di situ. Pelaku kembali mengayunkan parang ke arah tubuhnya. Dalam kondisi terluka, Rafli berusaha menangkis menggunakan tangan.
Akibat upaya mempertahankan diri tersebut, korban mengalami luka bacok serius pada tangan dan jari. Salah satu jari korban dilaporkan putus akibat terkena sabetan senjata tajam.
Meski dalam kondisi bersimbah darah, Rafli mengaku terus berupaya melawan. Ia kemudian berhasil merebut parang yang digunakan salah satu pelaku untuk menyerangnya.
“Setelah parang berhasil saya rebut, pelaku langsung lari,” katanya.
Setelah para pelaku melarikan diri, Rafli keluar menuju badan jalan dalam kondisi berlumuran darah untuk mencari pertolongan. Tidak lama kemudian, Kepala Dusun Tanah Goyang Jusmin Papalia datang dan membawanya ke Puskesmas Tanah Goyang guna mendapatkan penanganan medis awal.
Karena kondisi luka yang cukup berat, Rafli kemudian dirujuk ke Ambon dan hingga kini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Bakti Rahayu.
Keterangan korban yang diperoleh penyidik di rumah sakit kini menjadi bagian penting dalam proses penyidikan yang sedang dilakukan Polres Seram Bagian Barat. Kesaksian tersebut tidak hanya mengungkap kronologi penyerangan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai jumlah pelaku, cara mereka datang ke lokasi, serta dugaan penggunaan senjata tajam dalam aksi tersebut.
Kasus pembacokan terhadap Rafli Bufakar telah memicu perhatian luas dari masyarakat Seram Bagian Barat. Keluarga korban, tokoh masyarakat, dan sejumlah organisasi kemasyarakatan mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut serta menangkap seluruh pihak yang diduga terlibat.
Hingga saat ini, proses penyidikan masih terus berjalan. Polisi diharapkan dapat mengungkap seluruh rangkaian peristiwa secara transparan dan memastikan setiap pelaku yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.(IM-03)







