IM-Ambon-Rumah sakit merupakan lembaga atau tempat pelayanan kesehatan yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat dengan harapan dapat mendapat pelayanan yang baik dan dapat dijangkau.
Sebagai pusat kesehatan yang melayani publik, rumah sakit menjadi tempat yang dapat diandalkan masyarakat untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita, sehingga rumah sakit yang dapat menjamin kualitas terbaik dalam melayani masyarakat.
Namun terlepas dari arti rumah sakit tersebut, terdapat juga beberapa rumah sakit yang belum mumpuni dalam memberikan layanan dan fasilitas yang baik bagi masyarakat sehingga menimbulkan masalah, salah satunya seperti kasus yang baru saja dialami oleh ibu hamil yaitu Santi Nurmala (29).
Saat itu Iksan bersama keluarganya membawa istrinya yang sedang hamil pada hari Sabtu 13/01/2024 untuk mendapat pertolongan pelayanan dengan baik di RSUD Alfatah Ambon.
Namun sayangnya, setelah dirawat istrinya saat itu, keluarga pasien kecewa atas pelayaan buruk yang dialami oleh istrinya iksan
Bagaimana tidak, para perawat yang saat itu menangani pasien menyakatakan bahwa air yang keluar dari kandungan Ibu Santi itu bukan air ketuban malainkan keputihan lantaran perut dari pasien belum ada tanda-tanda merasakan sakit untuk melahirkan.
Padahal, saat itu perut pasien sangat sakit sehingga dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, tapi sayangnya perkatan dari perawat membuat keluarga pasien rapuh.
“Ini bukan air ketuban yang kaluar, tapi keputihan, jadi mau menetap disini atau mau pulang ka rumah,” ucap Iksan mengutik kata dokter dalam dialeg Ambon, Rabu 17/01/2024.
“Katong (Kami) taukan masih keputihan yang keluar, karena dokter bilangkan ini keputihan bukan air ketuban, jadi katong (Kami) pulang,” kata suami pasien dalam dialeg Ambon
Dikatakan, setelah itu pada hari Senin tanggal 14 Januari 2024 air ketupannya semakin banyak yang keluar dan perutnya semakin sakit sehingga kami datang lagi ke RSUD Alfatah tetap jam 05:30 pagi.
“Saat itu pasien di larikan ke IGD untuk mendapatkan perawatan dan pemeriksaan dari dokter dan perawat,” ungkapnya.
Namun kata iksan, istri saya hanya mendapat perawatan saat berada di IGD hanya satu kali saja, setelah itu ditinggalkan sampai pada jam 13:00 siang, hingga air ketupan pun kering.
Parahnya, saat air ketuban keringan barulah pasien di operasi sesar pada Jam 13:30 siang untuk menyelamatkan bayi yang ada didalam kandungan pasien.
Alhasil, saat selesai operasi bayi mengalami gangguan pernapasan dan kondisinya semakin menurun hingga meninggal.
“Air ketuban sudah kering baru dokter dan perawat melakukan operasi untuk menyelamat bayi yang ada di kandungan istri saya, tapi sayangnya bayi saya meninggal tidak dapat diselamatkan oleh dokter dan perrawat,” ungkap Iksan dengan wajah sedih.
Dikatakan, Kami keluarga tegas mengingatkan kepada para dokter dan perawat untuk serius dan tulus melayani setiap pasien yang datang ke RSUD Alfatah.
Menurutnya, karena setiap pasien yang datang di RSUD itu untuk mendapatkan perawatan dan pelayan yang baik dan serius.
“Ya supaya tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti ini yang nantinya di alami oleh keluarga pasien-pasien yang lain,” ingatnya
Hal ini karena keluarga pasien menilai dokter dan perawat tidak profesional dalam menjalankan tugas sebagaimana telah disumpah dalam profesi.
“Sebagai seorang dokter dan perawat harus lebih profesional dalam menjalankan, jangan ambruk,” tandasnya. (IM-06)







