IM-Waipirit;— Setiap Orang pastinya memiliki Kesibukan tersendiri di waktu senggang di luar tugas wajib Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Sebagai Pejabat Daerah. (02/04/2023).
Hal ini juga terjadi bagi Johan Tahya, Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kab.Seram Bagian Barat.
Ternyata selain sebagai seorang ASN atau apdi Negara Tahya juga memiliki usaha kecil – kecilan yang omsetnya terbilang Waw, Bisnis yang berawal dari hobi ini bermuara pada pendapatan yang sangar mentereng.
Kesehariaannya, ketika di waktu luang di selah – selah kesibukannya Tahya selalu di sibukan dengan Kecintaannya kepada tanaman yang di budidaya di samping rumahnya, halaman seluas 40×50 m² yang di dapat dari pemerintah pada saat menjadi peserta Transmigrasi dari Negeri Paperu, Kab.Maluku Tengah puluhan tahun lalu ini selain di bangun sebuah rumah yang sederhana, pekarangannya juga di jadikan sebagai lokasi budidaya Durian cangkok jenis montong, mangga, rambutan, lengkeng, nangka dan lain – lain.
Anakan budidayanya menjadi incaran para pecinta tanaman di kalangan ekonomi menengah ke atas, bisasanya selain memperindah halaman rumah juga memiliki manfaat ekonomis yang tinggi, tahya mencontohkan, khusus untuk jenis durian lokal, kalau sudah panen raya pasti harganya akan jatuh bahkan sampai di obral Rp.5000/buah, tetapi durian hasil budidayanya, paling murah Rp.50.000/buah. Apalagi anakan hasil budidayanya kalau di tanam paling tidak 3 – 4 tahun sudah berbuah.
Untuk satu anakan Durian saja di banrol dengan harga Rp.300.000 – Rp.700.000, kenapa harganya begitu fantastis?
Menurut Tahya bahwa anakan durian ini merupakan anakan durian cangkok batang dari anakan durian lokal dan durian jenis montong dan yang membuat anakan durian miliknya berbeda dari durian pada umumnya adalah anakan durian yang di gabungkan antara 3 sampai 7 induk anakan durian lokal yang di cangkok menjadi 1 Induk durian montong, ini keunikannya dan untuk di SBB baru tempat budidaya durian jenis ini yang di milikinya.
Usaha yang di tekuninya ini memiliki 4 orang kariawan yang bekerja. ” kalau anakan durian sudah terjual ratusan pohon belum anakan tanaman budidaya yang lainnya, Cukup untuk membantu menyambung hidup, Kalau harap gaji mau berapa pastinya tidak cukup, sekalipun saya dan istri sama – sama ASN”. Ucap tahya merendah.
Di singgung terkait jabatannya sebagai Kepala Dinas, Tahya menyampaikan bahwa menjadi pimpinan itu beban moralnya berat, ada saja yang suka maupun tidak suka, bahkan tidak sedikit orang yang mengincar jabatan ini, tetapi bagi saya jabatan ini merupakan sebuah tanggung jawab baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, bukan sebuah kebanggaan, jadi pengabdian yang tulus itu yang di utamakan.
Terkait dengan Fakta integritas yang di tanda tanganinya bersama rekan – rekan kepala dinas dan para camat se kab.SBB, tahya mengatakan bahwa dirinya sangat setuju dengan Keputusan Pj.Bupati Brigjen TNI. Andi Candra As’aduddin,SE.MH. Menurutnya keputusan yang yang di ambil oleh as’aduddin ini dapat memacu dirinya untuk membuktikan kepada Publik SBB bahwa Keberhasilan tidak akan membohongi kerja keras kita, masing – masing kita memiliki kemampuan secara akademis dan pengalaman, mari kita tunjukan dan buktikan, jangan asa ngomong saja tapi buktikan bahwa kita mampu ketika di berikan tanggung jawab, sekecil apapun tanggung jawab itu. Kalau kita mampu dan bertanggung jawab dalam hal kecil maka kita akan di berikan tanggung jawab terhadap hal yang besar.
“Ibarat pepatah usang mengatakan, Besi menajamkan besi, semahal apapun berlian kalau tidak di asah oleh tangan ahli maka berlian itu hanyalah sebuah bongkahan batu yang tidak ada nilanya, begitu pula sebaliknya”. Tutup Tahya (IM-AR)







