InfomalukuNews, Ambon–Pengalihan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon ke Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Moethalib (A.M.) Sangadji, mendapat kritikan dari berbagai kalangan, salah satunya juru bicara DPP HENA HETU A Rauf Pelu SH.
Menurutnya, pemerintah pusat dalam hal ini presiden, kementerian agama, kementerian dikti dan DPR, karena terlalu cepat memutuskan dan mengambil keputusan terkait dengan nama UIN yang ada di Maluku.
“Kalau proses peralihan dari IAIN Ambon ke UIN, kita sangat mendukung, tapi nama jangan dulu,” ucapnya pada media ini, Senin (26/05/2025).
Ia pun turut menghimbau, kepada Rektorat agar jangan terburu-buru, karena pihaknya bisa mengambil langkah-langkah, karena mengingat puluhan dosen dan staf mengajar yang ada di UIN Ambon saat ini, adalah orang Jezirah dan ratusan mahasiswa orang jazirah yang ada di UIN.
“Kita sangat mendukung peralihan status IAIN ke UIN, namun tetapi untuk namanya jangan dulu, karena harus melalui kajian-kajian agar penetapan namanya tidak menimbulkan pro dan kontrak,” tegasnya.
Pasalnya, Universitas Islam Negeri (UIN) Ambon memilih nama tokoh pergerakan asal Maluku yang justru berjuang di tanah orang, sementara Imam Rijali ulama, cendekiawan, dan pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk Maluku dibiarkan mati dalam lupa.
“Keputusan ini bukan sekadar kesalahan administratif, melainkan pengkhianatan terhadap akar sejarah yang seharusnya menjadi fondasi kampus,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon telah beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Moethalib (A.M.) Sangadji.
Peralihan ini, berdasarkan surat dari Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Nomor B-138/DJ.I.III/HM.01/05/2025.
Mirisnya, peralihan status ini juga dikritik oleh Husen Bafaddal Alumni HMI Maluku, beberapa waktu lalu.
Kritik utama bukan pada tokoh pergerakan yang diabadikan, tetapi pada logika di balik pilihan nama di UIN saat inj. Tokoh tersebut mungkin berasal dari Maluku, tetapi perjuangannya terjadi jauh dari tanah ini.
Ia menjadi bagian dari narasi nasional, sementara Imam Rijali yang darah, keringat, dan pemikirannya menyatu dengan Maluku justru diabaikan.
Ini mencerminkan mentalitas inferior seolah-olah legitimasi sebuah kampus hanya bisa diraih dengan mengadopsi nama yang diakui secara nasional, sekalipun tokoh itu minim kaitan dengan konteks lokal.
Padahal, UIN Ambon seharusnya menjadi mercusuar yang memancarkan cahaya keilmuan dan identitas Maluku.
Dengan memilih nama “pahlawan pengembara”, kampus ini justru mengirim pesan keliru: bahwa kontribusi untuk Maluku tidak cukup layak dihargai.
Mengapa Nama Imam Rijali Lebih Relevan?
1. Kesesuaian Visi Keilmuan Sebagai cendekiawan, Rijali mewakili integrasi keilmuan agama, budaya, dan sosial nilai yang seharusnya menjadi DNA UIN Ambon.
2. Pemulihan Identitas : Namanya akan mengembalikan kebanggaan lokal dan mengingatkan bahwa Maluku bukan sekadar “daerah konflik”, tetapi tanah pemikir dan pejuang.
3. Koreksi Sejarah: Ini momentum untuk mengakui bahwa perjuangan di dalam negeri (local resistance) sama mulianya dengan perjuangan di medan nasional.
Jika alasan penolakan adalah “birokrasi” atau “popularitas”, itu hanya dalih. Universitas-universitas terkemuka di dunia seperti Universitas Al-Azhar (Mesir) atau Universitas Harvard (AS) justru bangga menggunakan nama yang mencerminkan akar filosofis mereka, bukan sekadar mengikuti tren. (IM-03).





