Mengukur Kepemimpinan Konflik: Antara Simbol Kehadiran dan Kerja Sistemik Negara

- Publisher

Wednesday, 7 January 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ali Pary Usemahu

Infomalukunews.com, Ambon- Setiap kali konflik sosial terjadi di Maluku, respons publik hampir selalu bergerak ke satu arah yang sama, menuntut kehadiran fisik gubernur di lokasi konflik. Kehadiran tersebut kerap dijadikan tolak ukur utama keseriusan negara dalam menangani persoalan. Padahal, cara pandang semacam ini terlalu menyederhanakan persoalan yang pada dasarnya kompleks dan berlapis.

Sebagai daerah yang memiliki pengalaman panjang dengan konflik sosial, Maluku seharusnya mampu menyikapi setiap dinamika secara lebih jernih dan proporsional. Kritik terhadap pemerintah daerah tentu sah dan merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun, kritik yang tidak berpijak pada pemahaman utuh justru berpotensi melahirkan polarisasi baru dan memperkeruh situasi di lapangan.

Setiap konflik memiliki karakteristik yang berbeda: aktor yang terlibat, tingkat eskalasi, latar belakang sosial, hingga potensi meluasnya konflik. Karena itu, pendekatan penanganannya pun tidak bisa diseragamkan. Kehadiran atau ketidakhadiran gubernur secara fisik di suatu lokasi tidak dapat dijadikan ukuran tunggal atas komitmen negara dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Sejak awal masa kepemimpinannya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menunjukkan komitmen menjaga stabilitas daerah melalui penguatan koordinasi lintas institusi. Kerja sama dengan TNI, Polri, Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, serta pemerintah kabupaten dan kota menjadi fondasi utama dalam meredam potensi konflik. Dalam banyak kasus, pendekatan preventif dan senyap justru lebih efektif dibandingkan langkah-langkah simbolik yang berisiko memicu eskalasi.

Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua konflik harus dihadapi dengan kehadiran langsung kepala daerah. Ada situasi di mana pendekatan teknis, koordinatif, dan berbasis institusi justru lebih relevan. Inilah esensi tata kelola pemerintahan modern: pemimpin bekerja melalui sistem, bukan semata-mata melalui kehadiran personal.

Dalam konteks konflik antar pemuda di kawasan STAIN Ambon, misalnya, pemerintah provinsi tetap hadir melalui mekanisme yang tersedia. Aparat keamanan, perangkat daerah, dan unsur Forkopimda menjalankan perannya sesuai dengan kewenangan masing-masing. Ini bukan bentuk pembiaran, melainkan pembagian peran yang terukur agar persoalan tidak melebar ke ranah yang lebih sensitif.

Sebagai masyarakat yang mendambakan perdamaian berkelanjutan, kita perlu keluar dari jebakan penilaian simbolik. Kepemimpinan tidak diukur dari seberapa sering seorang gubernur tampil di lokasi konflik, melainkan dari seberapa efektif sistem negara bekerja dalam mencegah, meredam, dan menyelesaikan konflik secara adil dan berkelanjutan. Karena itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat Maluku untuk menahan diri, menjaga ruang publik dari narasi yang menyesatkan, serta menempatkan akal sehat dan kepentingan perdamaian sebagai pijakan utama dalam menyikapi setiap konflik yang terjadi.(red)

Berita Terkait

Warga Waipirit Tuntut Kepastian Hukum, Ancam Palang Jalan Lintas Seram
Kapolda Maluku tunjuk Iptu Chalid Waliulu sebagai Kapolsek Leihitu Ganti Iptu La Ode Muhammad Yusdiman yang Terlibat Narkotika.
Pemerintah Dusun Pasir Panjang Kecam Aksi Demonstrasi di Polres SBB: Kami Tidak Pernah Diwakili!
Teach4Hope Hadir di Pulau Boleng, NTT, Dorong Peningkatan Kompetensi Guru
25.383 KK di Ambon Terima Bantuan Beras, Wali Kota Bodewin: Pastikan Tepat Sasaran dan Jangan Diperjualbelikan
3.000 Anak PAUD Kibarkan Semangat Merah Putih, Bodewin: Cinta Indonesia Harus Ditanamkan Sejak Dini
Sempat Hilang Kontak Saat Melaut, Warga Kairatu Ditemukan Meninggal di Kedalaman 20 Meter
Hangat dan Penuh Kebersamaan, Kodam XV/Pattimura Rayakan HUT LVRI-PPAD Bersama Masyarakat
Berita ini 89 kali dibaca

Berita Terkait

Thursday, 13 August 2026 - 22:13 WIT

Warga Waipirit Tuntut Kepastian Hukum, Ancam Palang Jalan Lintas Seram

Thursday, 13 August 2026 - 22:08 WIT

Kapolda Maluku tunjuk Iptu Chalid Waliulu sebagai Kapolsek Leihitu Ganti Iptu La Ode Muhammad Yusdiman yang Terlibat Narkotika.

Thursday, 13 August 2026 - 18:25 WIT

Pemerintah Dusun Pasir Panjang Kecam Aksi Demonstrasi di Polres SBB: Kami Tidak Pernah Diwakili!

Thursday, 13 August 2026 - 14:56 WIT

Teach4Hope Hadir di Pulau Boleng, NTT, Dorong Peningkatan Kompetensi Guru

Thursday, 13 August 2026 - 04:56 WIT

3.000 Anak PAUD Kibarkan Semangat Merah Putih, Bodewin: Cinta Indonesia Harus Ditanamkan Sejak Dini

Berita Terbaru