Infomalukunews.com, Ambon-Ruas jalan Saleman-Besi diduga mengalami banyak titik patahan, akibat tanah expansif dan ketika hujan maka terjadi longsoran tebing yang menutupi badan jalan.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Provinsi Maluku, Toce Leuwol, pada media ini, Jumat (6/03/2026).
Dikatakan Toce, sementara ini pihaknya, akan melakukan kajian teknis, terkait jalan tersebut masih aman untuk lalui atau tidak.
“Olehnya itu kami tetap minta agar melakukan kajian teknis, untuk penanganan kedepannya,” ucap dia.
Dijelaskan, pernah di survey oleh Satker Perencanaan BPJN Maluku melibatkan Balai Geoteknik, Terowongan dan Struktur (BGTS) Kementerian PU terkait patahan pada ruas jalan itu, sekitar tahun 2017 dan 2018, dan benar ada terindekasi patahan (sesar dalam) dan pergerakan tanah dapat berpengaruh ke kerusakan kontruksi jalan, oleh karena itu, perlu ada kajian detail.
“Jadi sementara kami dari pihak BPJN masih melakukan penimbunan (holding) di segmen jalan yang mengalami patahan serta pembersian jalan yang tertimbun longsor, karena belum bisa penanganan secara permanen karena aspalnya rusak kembali, dikarenakan tanah ekpansif (daerah patahan),” jelas Toce
Jadi kata dia, sementara kami harus cari jalan solusi alternatif akses jalan yang lain, menuju Banggoi dan Bula, supaya jangan hanya mengharapkan jalan di gunung SS.
“Ruas Jalan Saleman-Besi yang sekarang ini juga masuk dalam kawasan taman Nasional Manusela, jadi kami tidak bisa buat apa-apa disitu, tidak bisa pindahkan trase jalan yang baru,” ungkapnya
Lebih lanjut kata dia, kedepannya pihaknya akan membuka ruas baru untuk jalan menuju Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), supaya ada alternatif yang lain seperti ruas Werinama-Banggoi dan Werinama-Kota Baru-Air Nanang, sehingga tidak berharap di jalan Saleman-Besi saja,” pungkas Satker II itu. (IM-03).







