AMBON- Gempa tektonik berkekuatan 4.6 SR mengguncang Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur Rabu (16/10) lalu pukul 11.25 WIT diakibatkan tumbukan lempeng benua.
“Beda dengan yang terjadi di Kairatu yang karena patahan itu. Yang di Bula ini karena tumbukan lempeng benua, Indo Australia dengan lempeng Eurasia,” ungkap Humas BMKG Maluku Andi Azhar Rusdin kepada infomalukunews.com, Jumat (18/10) melalui telepon seluler.
Ditanya soal kemungkinan terjadi gempa susulan, Andi mengaku tidak ada kemungkinan itu, sehingga masyarakat tidak perlu cemas. Menurut dia tumbukan lempeng yang terjadi laut ini merupakan proses yang normal di lapisan bumi, untuk melepaskan energi.
Namun diakui, potensi merusak lebih tinggi untuk gempa akibat tumbukan lempeng yang bergerak vertikal seperti di Bula, ketimbang gempa yang dipicu oleh patahan atau sesar yang bergerak horisontal seperti terjadi pada gempa berkekuatan 6,8 SR di Kairatu Kabupaten SBB 26 September lalu.
“Tentu saja potensi merusaknya lebih tinggi untuk tumbukan lempeng benua di subduksi Seram. Tapi tergantung besaran gempanya seperti apa dulu,” terang Andi.
Gempa yang mengguncang kota Bula pada kedalaman 108 Km itu sempat menimbulkan kepanikan warga di daerah penghasil minyak bumi ini. Namun tidak membuat warga mengungsi.
Menurut BMKG episenter atau pusat gempabumi akibat aktivitas subduksi Seram itu terletak pada koordinat 3.12 LS dan 130.73 BT, atau tepatnya berlokasi di laut 26 km Timur Bula-SBT. (pom)



