Terbuka Terhadap Masukan, Ini Penjelasan Korwil BGN Aru Terkait Laporan Dugaan Masalah Menu di SD 6 Dobo.

- Publisher

Tuesday, 25 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Infomalukunews.com Dobo- Kordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Kepulauan Aru bersama pihak SPPG dan Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bergerak cepat ke SD Negeri 6 Dobo pada hari Senin (24/8/2026) untuk menindaklanjuti laporan dugaan masalah pada menu makanan yang dikonsumsi siswa.

Pengecekan dilakukan setelah muncul laporan dan diberitakan bahwa ada 2 siswa mengalami gatal-gatal pada bagian mulut dan bibir dari kurang lebih 600 siswa di lingkungan SD 6 yang mengkonsumsi menu ikan dari program MBG pada Jumat (21/8/2026).

Pihak BGN akhirnya bertemu dengan Kepala SD Negeri 6 Dobo dan perwakilan para guru serta SPPG, dan dalam pertemuan tersebut hadir juga Koordinator BGN Wilayah Kepulauan Aru, Jordan Samloy, perwakilan Satgas dari Dinas Ketahanan Pangan, pihak SPPG Durjela, serta Plt. Kepala SD Negeri 6 Dobo Yustus Simon Sedubun, S.Th serta pihak sekolah lainnya.

Koordinator BGN Jordan Samloy, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait kejadian tersebut pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIT. atau jam 07.00 malam.

Menurut Jordan, laporan itu langsung ditindak-lanjuti dengan pengecekan lapangan agar persoalan yang sebenarnya dapat diketahui secara jelas.

“Kita ingin cek langsung di lapangan supaya hal ini tidak terulang kembali. Anak yang mengonsumsi makanan harus betul-betul terhindar dari gangguan kesehatan dan keamanan pangan harus menjadi perhatian utama,” katanya.

Ia menegaskan, pihak BGN terbuka terhadap setiap keluhan maupun masukan dari orang tua dan guru terkait pelaksanaan program MBG.

“Kalaupun ada keluhan, kalaupun ada masukan, kami terima. Kami siap evaluasi besar-besaran dan siap untuk tindak lanjut,” tegasnya.

Samloy juga mengajak pihak sekolah, guru, orang tua dan pengelola SPPG untuk memperkuat koordinasi sehingga pelaksanaan MBG dapat berjalan baik dan aman bagi siswa.

Plt. Kepala SD Negeri 6 Dobo, Yustus Simon Sedubun, menjelaskan bahwa pendataan siswa yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu telah dilakukan sebelum program MBG berjalan.

Menurutnya, data tersebut mencakup siswa dari kelas I hingga kelas VI. Dari jumlah siswa yang mencapai lebih dari 600 orang, terdapat sekitar 30-an siswa yang telah terdata memiliki alergi tertentu. “Semua data siswa dari kelas satu sampai kelas enam sudah ada, di dalamnya ada yang alergi dan bukan alergi,” jelasnya.

Ia mengatakan, data alergi tersebut tidak hanya diperoleh dari siswa, tetapi juga dikonfirmasi kepada orang tua sebelum disampaikan kepada pihak pengelola MBG.

Setiap ompreng makanan, kata Sedubun, juga telah diberi penanda sesuai data alergi siswa sehingga menu yang mengandung bahan tertentu dapat disesuaikan.

Terkait kejadian Jumat lalu, Sedubun menyebut keluhan tersebut disampaikan setelah siswa sudah berada di luar lingkungan sekolah.

Kepsek juga menegaskan bahwa pihak sekolah selama ini telah mengingatkan siswa agar makanan MBG dikonsumsi sampai habis di sekolah dan tidak dibawa pulang.

“Kalau terjadi sesuatu setelah makanan dibawa pulang, itu sudah berada di luar jam sekolah. Karena itu kami selalu menyampaikan kepada siswa agar makanan dihabiskan di sekolah,” ujarnya.

Kepsek juga membantah adanya temuan makanan yang berbau busuk atau basi saat menu MBG tiba di SD Negeri 6 Dobo pada Jumat.

Dia mengatakan pihak sekolah melakukan pengecekan terhadap makanan yang datang, bahkan dirinya ikut mencicipi menu ikan dan makanan lainnya. “Untuk makanan yang dikonsumsi tidak ada satu menu pun yang bau busuk dan sebagainya,” ungkapnya.

Menurut Kepsek, apabila ditemukan makanan dengan kondisi yang tidak layak, pihak guru maupun penanggung jawab MBG di sekolah akan segera menyampaikan laporan.

Namun, pada Jumat tersebut, menurut keterangan pihak sekolah, tidak ada laporan mengenai makanan yang berbau maupun adanya gangguan kesehatan yang terjadi saat siswa masih berada di sekolah.

Sementara itu, Kepala SPPG Durjela 02, Sontaria Balsala, memaparkan tahapan pengelolaan bahan makanan sebelum sampai ke tangan siswa.

Ia menjelaskan, bahan baku diterima di SPPG dalam rentang pukul 18.00 hingga 22.00 WIT, bergantung pada waktu kedatangan dari pemasok.

Setelah diterima, bahan baku terlebih dahulu disortir, ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya.

Bahan protein hewani seperti ikan dan ayam langsung ditempatkan dalam freezer. Sementara tahu, tempe, kacang-kacangan, sayuran dan buah-buahan ditempatkan sesuai tempat penyimpanan masing-masing.

Proses persiapan dimulai sekitar pukul 22.00 WIT, termasuk proses pencairan bahan protein hewani, pemotongan dan pencucian sayuran.

Selanjutnya, proses produksi makanan dimulai sekitar pukul 01.00 hingga 02.00 WIT, sedangkan pemorsian dilakukan sekitar pukul 04.30 hingga 05.00 WIT.

Untuk distribusi ke SD Negeri 6 Dobo, SD Gwamar dan SD Negeri 11 Dobo, makanan dikirim sekitar pukul 14.00 WIT karena ketiga sekolah tersebut melaksanakan pembelajaran pada siang hari, khususnya pada Jumat.

Sontaria mengungkapkan, sekitar pukul 16.30 WIT pada Jumat (21/8/2026), dirinya menerima telepon dari penanggung jawab SD Negeri 6 Dobo mengenai laporan seorang orang tua siswa.

Orang tua tersebut melaporkan anaknya mengalami rasa gatal pada bagian mulut dan bibir setelah mengonsumsi menu ikan dan sayur. Menurut Sontaria, orang tua tersebut kemudian menghubunginya secara langsung sekitar 20 hingga 30 menit setelah laporan awal diterima.

Dirinya juga mendapat informasi bahwa makanan yang dikonsumsi siswa tersebut telah dibawa pulang ke rumah.

Sontaria menjelaskan, sebelum makanan didistribusikan, setiap ompreng telah ditempeli label yang mencantumkan informasi nilai gizi, nama sekolah dan batas waktu konsumsi.

Selain itu, terdapat keterangan bahwa makanan tidak diperbolehkan dibawa pulang dan harus dikonsumsi di sekolah.

Terkait sorotan terhadap menu sayuran berupa jantung pisang, Sontaria menjelaskan bahwa penggunaan bahan pangan lokal merupakan bagian dari variasi menu MBG.

Ia menyebut jantung pisang dan daun singkong termasuk bahan pangan lokal yang digunakan dalam menu dan telah diperhitungkan kandungan gizinya oleh pengawas gizi SPPG.

“Setiap menu yang kami produksi di SPPG sudah ada nilai gizinya dan nilai gizi itu juga tertera pada label,” jelasnya.

Ditambahkan pula, menu yang diproduksi juga dilaporkan setiap hari kepada pihak terkait, mulai dari proses persiapan, produksi, distribusi hingga pencucian wadah makanan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, BGN Wilayah Kepulauan Aru dan pihak SPPG memastikan evaluasi akan dilakukan, terutama terhadap proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan hingga distribusi makanan kepada siswa.

Pihak SPPG juga menyampaikan permohonan maaf atas munculnya persoalan tersebut dan berkomitmen lebih berhati-hati dalam proses penyaluran makanan MBG.

Langkah evaluasi dinilai penting untuk memastikan keamanan pangan serta mencegah munculnya kembali keluhan serupa di kemudian hari.

Diketahui, laporan dugaan kualitas ikan dan sayur dalam menu MBG tersebut mencuat setelah dua siswa SD Negeri 6 Dobo dilaporkan mengalami gatal-gatal setelah mengonsumsi makanan pada Jumat lalu.

SD Negeri 6 Dobo, SD Gwamar Dobo dan SD Negeri 11 Dobo merupakan sekolah yang berada dalam satu lingkungan distribusi SPPG. Hingga kini, pihak BGN, sekolah dan SPPG masih menekankan pentingnya pengecekan dan evaluasi agar pelaksanaan program MBG tetap aman, berkualitas dan memberikan manfaat bagi para siswa. (IM/DW)

Berita Terkait

PD Panca Karya Tegaskan Tarif Suplesi Berpedoman pada Aturan, Dishub Diminta Awasi Pelayanan
Heboh! Jaksa Sebut Sekda Maluku Diduga Terlibat Mafia Karbon Sejak Menjabat Kadis Kehutanan
Lewat HUT 28, DPD PAN Buresl Santuni 280 Anak Yatim
BPJN Maluku–PLN Bahas Pembangunan Listrik Desa di Maluku Tenggara, Pastikan Tak Ganggu Infrastruktur Jalan
LEPAS PERAHU GABAH KE LAUT, SISWA KEPULAUAN ARU TITIP PESAN KE PRESIDEN PRABOWO
Terima Surat Raja Gunung Manusela, Gubernur Maluku Janji Perjuangkan Hak Masyarakat Adat ke Pemerintah Pusat
Sarang Kawalinya Cafe Dan Resto Resmi Dibuka, Wali Kota Ambon Dorong Investasi dan Pelestarian Kuliner Khas Ambon 
Tak Ingin Persoalan Melebar, Anggota Protokoler Pemprov Maluku Minta Maaf atas Ucapan yang Menyinggung
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 25 August 2026 - 10:24 WIT

PD Panca Karya Tegaskan Tarif Suplesi Berpedoman pada Aturan, Dishub Diminta Awasi Pelayanan

Tuesday, 25 August 2026 - 09:18 WIT

Terbuka Terhadap Masukan, Ini Penjelasan Korwil BGN Aru Terkait Laporan Dugaan Masalah Menu di SD 6 Dobo.

Tuesday, 25 August 2026 - 08:20 WIT

Heboh! Jaksa Sebut Sekda Maluku Diduga Terlibat Mafia Karbon Sejak Menjabat Kadis Kehutanan

Monday, 24 August 2026 - 10:05 WIT

Lewat HUT 28, DPD PAN Buresl Santuni 280 Anak Yatim

Sunday, 23 August 2026 - 16:08 WIT

BPJN Maluku–PLN Bahas Pembangunan Listrik Desa di Maluku Tenggara, Pastikan Tak Ganggu Infrastruktur Jalan

Berita Terbaru