11 Tahun Aktivitas Gunung Botak, Ini Penjelasan Akademisi Unpatti.

- Publisher

Friday, 23 December 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IM — AMBON.’ — Guru Besar Universitas Pattimura Ambon, pada Fakultas MIPA Kimia, Prof. Dr. Yusthinus Thobiaa Male, S.Si, M.Si, mengatakan bahwa, Kabupaten Buru mekarkan Kabupaten Buru Selatan pada tahun 2008 penduduk 75000 kemudian dibagi 2 ampir 60% Kabupaten Buru dan 64 persennya Buru Selatan. jumlah penduduk 2011 tidak sampai Rp 40.000 tetapi adanya emas, datangnya pendatang bahkan hampir dua kali lipat dari penduduk setempat.

Banyaknya orang yang datang menambang dan menggunakan teknologi yang tidak ramah lingkungan. 11 tahun beraktifitas Pemerintah Provinsi Maluku seolah – olah menutup mata tidak menertibkan aktivitas pertambangan tidak menerbitkan regulasi sehingga tidak bisa mengatur pendatang, ujar Prof Male kepada media ini di Ambon, Rabu (21/12/2022).

Mereka menggunakan teknologi tradisional, menggunakan pening atau panci memang terjadi pendangkalan sungai tetap masih lama. Kemudian pakai teknik dompeng menyemprot gunung, menyemprot bukit dengan air kemudian disaring dengan karpet namanya teknik dompet sehingga sungai di anahole di Buru pendangkalan, lalu hutan sagu situ musna karena hasilnya rendah mereka menggunakan merkuri

Merkuri digunakan 4 sampai 5 kali terakhirnya sianida, dua bahan ini sangat berbahaya bagi lingkungan khususnya merkuri. sianida kalau dibiarkan di alam terbuka dalam seminggu dia akan terdegradasi menjadi senyawa lain, tetapi dibutuhkan teknologi dan ahli yang sangat tester karena bahannya beracun sehingga penambang rakyat memili tidak menggunakan sianida.

Mereka menggunakan merkuri yang bisa dipegang bisa dicium masalahnya adalah merkuri sampai kapan pun tetap beracun dan tidak bisa berubah bentuk menjadi senyawa lain. Ini yang terjadi di Buru semua menggunakan tromol, seribuan unit tromol menggunakan merkuri sejak akhir 2011. Sehingga 2012 setahun setengah setelah itu, “saya mengambil sampel kemudian dibawa ke Australia diukur konsentrasinya sudah sampai level yang mengkhawatirkan”.
kita sudah public sudah berbicara tetapi itu berlangsung sampai sekarang sudah 11 tahun, ungkapnya.

Tidak ada upaya yang dilakukan selain penertiban fisik tetapi sekali lagi seperti kucing-kucingan dengan penjual di pasar setelah aparat pergi dibuka lagi terpalnya kalau diatas dibuka lagi rendaman dia buka lagi tromolnya.

keadaan sekarang diperparah adalah kewenangan mengeluarkan izin dari Bupati Walikota masih mengeluarkan izin untuk logam, tetapi keluar Peraturan Menteri ESDM tahun 2009 semua kewenangan ditarik ke pusat sehingga Dinas ESDM dilikuidasi. ini yang terjadi adalah lokasi tambang lokusnya ada di Kabupaten sedangkan Dinas dan anggarannya tidak ada lagi. Karena tidak ada anggaran sehingga terkesan pembiaran karena kewenangan itu di pusat sehingga itu menjadi buah simalakama bagi kita terutama juga aparat keamanan. karena anggarannya, terbatas untuk menangani yang terlibat aktivitas mulai dari penyalur bahan termasuk penanda pelaku itu juga jumlahnya belasan ribu.

Siapa yang akan menangkap pelaku kriminal yang belasan ribu itu, tentu butuh anggaran yang sangat besar sehingga aparat keamanan juga serba salah karena yang ditanggap ribuan, kemudian tidak ada anggaran untuk mendekat itu, Dinas ESDM tidak ada lagi di Kabupaten sehingga itu terkesan pembiaran dengan keadaan seperti itu.

Tambang sinabar ada di berbagai tempat yakni di Kalimatan, Sulawesi tetapi yang paling terbesar adalah di Seram. Dampaknya masih ada sampai sekarang, di dua daerah ini secara resmi di tutup tetapi tetap berlansung dan tidak ada upaya dan belum ada upaya atau masih di upayakan untuk penata tapi yang terjadi adalah setiap hari puluhan atau ratusan karung turun dari gunung membwa sinabar.

Seandainya di Buru dan di Piru tidak ada ekosistem mangrove ini tidak terlalu khawatir kan karena logam itu berat dia akan langsung masuk ke bawa lumpur tetapi di muara-muara sungai itu dipenuhi mangrove. Mangrove itu punya tiga ciri kandungan organiknya tinggi, oksigen kurang, cahaya itu kurang, itu menyebabkan mikroba yang di situ namanya kurbaan aerobik, dia tidak pakai oksigen tapi dia rubah senyawa kimia supaya dia hidup dia makan.

Jadi merkuri yang tersimpan di bawah lumpur tidak larut dalam air ikan tidak bisa makan merkuri karena itu logam, tetapi oleh mikroba senyawa ini di metilasi dirubah jadi senyawa metil lalu dia larut dalam air lalu dimakan oleh Soplankton fitoplankton ikan kecil lalu selanjutnya proses makan memakan rantai makanan.

Masalahnya adalah di mangrove tempat memijat tempat kawin tempat bertelur dan tempat berkembangbiak dari pemangsa semua berlindung disitu, disitulah ketemu antara merkuri yang sudah metilasi hewan yang berkembang biak

Di daerah lain tidak mengawatirkan karena tidak ada mangrove tetapi di Teluk Piru di Teluk Kayeli mangrovenya tebal. Merkuri itu dia tetap beracun dan sekarang sudah ada di lingkungan. 3 tahun setelah tambang menggunakan merkuri tahun 2014, karena status quonya tidak berubah, mereka berharap segera di legalkan supaya mereka menambang secara resmi namun tidak perna terjadi, akhirnya mereka turun menambang dan sekarang yang terjadi adalah ankonclol. kita tidak lagi lihat tromol di pinggir sungai tetapi mereka bawa ke belakang rumah dan lahan pertanian.

Merkuri di Buru sudah berlangsung 11 tahun dan sampai hari ini ribuan orang sedang menambag ribuan orang mati akan berkurang sampai sore ini, itu fakta yang kita sampaikan. Mudah-mudahan ada kesadaran kita bersama sebagai orang Maluku karena kewajiban kita adalah memberitahukan.

Sementara itu, Akademisi Fakultas MIPA Biologi Unpatti, Dr. Amos Killay, M.S, mengatakan bahwa, kalau merkuri masuk di dalam tubuh dia akan menganggu fungsi protein. Fungsi protein itu bisa berfungsi sebagai emsen, resektor dan yang di ganggu adalah unsur sulfidanya.

Jadi protein itu ada salah satu asmnomi sulfidanya lansung masuk merusak manusia. Karena kita manusia ini diatur oleh fungsi protein. Fungsi protein itu mengatur tetang sehat, fungsi protein sebagai emsem, resktor, anti boddy dan sebagainya.

Kalau itu di ganggu atau rusak berarti fungsi tidak jalan. Merkuri itu akan memutus sulfida pada protein. Protein itu ada asammino yang mengandung sulfida, jadi kalau sudah rusak dan tidak berfungsi lagi, akibatnya menganggu proses metobolisme tinggi. Karena tubuh kita ini di atur oleh protein. Merkuri itu sangat berbahya bisa merusak fungsi protein di dalam tubuh.

Selanjutnyan, Wakil Sekretaris SKP DPW Maluku dan juga BRIN Kawasan Ambon, Daniel D Pelasula, mengatakan bahwa, hasil dari penilitian Prof.Dr. Yusthinus Thobiaa Male sebagai pintu masuk untuk bisa melakukan riset – riset yang lain. Banyak mister yang harus di ungkapkan.

Ekosistem pertama yang kena dampak itu adalah ekosistem mangrove, didalam mangrove itu ada ikan, udang, kepiting atau siput dan segala macam yang hidup di dalamya dan menetap dan dia tidak bisa kemana – mana, otomatis kalau penelitian itu di lakukan oleh Prof Male dia berdampak terhadap ekosistem dan biota – biota laut yang di dalamya itu.

Tiga hal yang perlu di kaji. Pertama, kelansungan biota itu apakah dia akan mengalami mutasi.Kedua, apakah dia akan mati, itu juga butuh riset.Ketiga, rantai makanan manusia. Di pulau Buru itu teluk jadi proses penelitian.

Masukan dari sidemen yang dari atas akibat dari penggalian mas itu dia akan masuk lewat sungai dan masuk ke ekosistem. Ketika pulau arus lemah otomatis tidak akan terjadi penelitian dan dia akan mengendap disitu, dan itu menjadi masalah besar kalau di lakukan penelitian lebih lanjut.

Kemudian lebih lanjut, akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti, Dr. It. Welem Wailruny, mengatakan bahwa, penjelasan dari Prof. Dr. Male itu ada rantai makanan di sana, ekosistem mangrove, lamu itu tempat memija beberapa jenis ikan di antaranya juga ikan – ikan kecil, dia datang kesitu untuk makan habis itu dia ke laut lepas. Dia kelaut lepas dia bisa hidup tetap dia bisa di makan oleh dia punya predator yang lebih tinggi, misalnya tuna.

Hari ini kita belum dapat logam berat di tuna, karena ada dua hal, belum ada risetnya atau memang belum terempeksi, tapi kalau kita biarkan pada waktunya terempeksi, itu secara tuna. Tapi kalau Prof Male punya penelitian pada 2014 semua ikan di pasar Buru sama dengan kondisi ikan hari ini.

Artinya ikan – ikan yang ada disitu, ikan yang hidup di dasar atau hidup di daerah rumput karang dia ada di ekosistem itu saja, tapi kalau ikan plajis dia tidak tetap dan berpindah – pindah.

Jadi hari ini dia datang makan disini, bertelur disini dan besok dia sudah berpindah ke tempat lain. Dalam perjalanan itu dia bisa di makan oleh predator, pada saat dia di makan predator yang lebih tinggi dan predator itu kena endingnya pada kita, itu aspek kesehatan dan lingkungan.

Kalau dalam aspek ekonomi kalau tidak di tangani aspek ekonomi pun terdampak, kalau misalnya ada ketahuan merkuri di hentikan, misalnya di tuna itu pasti ekspor kita di tolak dan itu sudah pasti. Kalau merkuri itu Kebentulan tidak di kemasan atau di tempat pengepakan itu kemungkinan bisa di tangani gampang dan itu tinggal di musnakan saja dan diganti baru dan ekspor itu di terima lagi, tutup Dr Welem.(IM-03)

Berita Terkait

Puluhan Tanah SMA/SMK di SBB Belum Bersertifikat, Kacabdin Kejar Tuntas Juli 2026
“Sinergitas TNI dan Para Dai” Danrindam Tekankan Komitmen Kebangsaan Demi Keutuhan NKRII ‎
DPRD Maluku Ingatkan Pentingnya Realisasi Rekomendasi LKPJ
Polisi Kirim SPDP Kasus Pembunuhan Nus Kei ke Kejaksaan, Penanganan Masuk Tahap Lanjutan
Pemkot Ambon Perkuat Fasilitasi Haji 2026, Manasik Jadi Bekal Kemandirian Jamaah
Bupati SBB Ir. Asri Arman Diduga ‘Tipu Negara’, Lantik Pejabat yang Belum Penuhi Syarat
Fatlolon Dituntut 8 Tahun, Isu Diskriminasi Bayangi Kasus PT Tanimbar Energi
Wali Kota Apresiasi Perumdam Tirta Yapono yang Raih Top BUMD Bintang 4  
Berita ini 290 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 14:02 WIT

Puluhan Tanah SMA/SMK di SBB Belum Bersertifikat, Kacabdin Kejar Tuntas Juli 2026

Thursday, 7 May 2026 - 22:49 WIT

“Sinergitas TNI dan Para Dai” Danrindam Tekankan Komitmen Kebangsaan Demi Keutuhan NKRII ‎

Saturday, 25 April 2026 - 16:55 WIT

DPRD Maluku Ingatkan Pentingnya Realisasi Rekomendasi LKPJ

Wednesday, 22 April 2026 - 19:39 WIT

Polisi Kirim SPDP Kasus Pembunuhan Nus Kei ke Kejaksaan, Penanganan Masuk Tahap Lanjutan

Friday, 17 April 2026 - 23:12 WIT

Pemkot Ambon Perkuat Fasilitasi Haji 2026, Manasik Jadi Bekal Kemandirian Jamaah

Berita Terbaru

Daerah

KONFLIK HANYA BIKING KATONG JALAN DITEMPAT.

Wednesday, 27 May 2026 - 18:59 WIT