InfoMalukuNews.com,Dobo — Mitra Yayasan Bina Desa Lestari yang menaungi dua dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, menyatakan terus mendorong penggunaan bahan baku lokal sekaligus melibatkan masyarakat dan pelaku UMKM setempat dalam memenuhi kebutuhan dapur.
Hal tersebut disampaikan Roy Fernada selaku perwakilan Mitra Yayasan Bina Desa Lestari kepada wartawan saat menjelaskan pengelolaan dua dapur MBG yang berada di Dobo.
Menurut Roy, yayasan yang berkedudukan di Semarang tersebut saat ini menaungi dua dapur di Dobo, yakni dapur SPPG Duri Dalam 01 dan SPPG 78. Kedua dapur tersebut memiliki manajemen penerima manfaat yang terpisah.
“Untuk sekarang ada dua dapur yang dinaungi yayasan kami di Dobo,” ujar Roy.
Ia menjelaskan, dalam pemenuhan bahan baku, pihaknya saat ini bekerja sama dengan sekitar delapan supplier. Masing-masing supplier menangani kebutuhan berbeda, mulai dari buah-buahan, protein nabati, protein hewani hingga kebutuhan operasional dapur.
Selain menggunakan supplier, pihak dapur juga berupaya menyerap hasil produksi petani dan masyarakat lokal. Apabila kebutuhan bahan baku di pasar tidak mencukupi, pihak dapur mencari pasokan langsung dari petani di sejumlah wilayah sekitar Dobo.
“Kalau kebutuhan di pasar tidak terpenuhi, kami mencari ke petani. Ada petani bayam, kangkung, pakcoy, sawi dan jenis sayuran lainnya,” jelasnya.
Menurut Roy, kebutuhan sayuran untuk dua dapur dapat mencapai sekitar 300 kilogram per hari, meskipun jumlahnya menyesuaikan dengan menu dan jumlah penerima manfaat.
Ia mencontohkan, satu dapur membutuhkan sekitar 280 kilogram sayuran per hari. Jika pasokan di pasar hanya mampu memenuhi sekitar 80 kilogram, pihak dapur harus mencari tambahan langsung kepada petani.
Kondisi tersebut, kata Roy, menjadi salah satu tantangan dalam penggunaan bahan baku lokal karena ketersediaan sayuran dan buah-buahan di Kepulauan Aru belum selalu stabil.
“Untuk kendala supplier lokal lebih banyak di sayur dan buah karena ketersediaannya terbatas,” katanya.
Libatkan UMKM dan Produk Pangan Lokal
Selain petani, pihak yayasan juga mengaku telah melibatkan UMKM lokal. Salah satunya melalui produk abon ikan tuna yang diproduksi oleh pelaku UMKM setempat.
Roy mengatakan, pihaknya memanggil pelaku UMKM tersebut ketika kebutuhan produk diperlukan dan produk yang telah disuplai masih tersedia di gudang dapur.
Pihak dapur juga menggunakan sejumlah menu berbasis pangan lokal, antara lain jantung pisang dan berbagai jenis sayuran lokal yang diperoleh dari masyarakat sekitar.
“Jadi bukan hanya dari supplier besar. Kami juga membeli dari masyarakat sekitar dan menggunakan produk lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa kebutuhan seperti bawang merah, bawang putih, kol dan wortel juga diperoleh melalui supplier yang beroperasi di Dobo, meskipun sebagian barang tersebut dipasok dari luar daerah, termasuk Makassar.
Supplier Wajib Memiliki NIB dan Rekening
Dalam sistem pengadaan bahan baku, Roy menyebut setiap supplier yang memasok kebutuhan dapur diwajibkan memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan rekening.
Menurutnya, mekanisme pembayaran dilakukan secara langsung melalui pihak yang menangani pembayaran, sehingga transaksi tidak dilakukan secara informal oleh dapur.
“Kami mewajibkan supplier memiliki NIB dan nomor rekening. Untuk pembayaran dilakukan sesuai mekanisme yang sudah ditetapkan,” katanya.
Untuk kebutuhan ayam, pihak dapur menggunakan produk ayam yang telah dipotong dan diproses oleh supplier sehingga ukuran setiap potongan lebih seragam dan memudahkan proses pengolahan di dapur.
Roy menyebut penggunaan ayam yang sudah diproses juga dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi serta mengurangi risiko kontaminasi silang yang dapat terjadi apabila proses pemotongan dilakukan secara manual di dapur.
Ikan Kakap Jadi Pilihan Utama
Sementara untuk ikan, Roy mengatakan pihak dapur saat ini lebih banyak menggunakan ikan fillet kakap.
Pemilihan ikan fillet tersebut, menurut dia, mempertimbangkan faktor keamanan pangan bagi penerima manfaat, terutama anak-anak, karena lebih minim risiko duri.
Sebelumnya, pihak dapur sempat menggunakan ikan kembung yang diperoleh ketika pasokan ikan lokal sedang melimpah. Namun penggunaan ikan tersebut kemudian dihentikan setelah dilakukan evaluasi.
“Sekitar beberapa minggu lalu ikan kembung sudah tidak kami gunakan lagi. Saat itu digunakan karena sedang musim dan pasokannya melimpah,” jelas Roy.
Ia mengatakan, penggunaan jenis ikan sebelumnya juga mendapat masukan dari pihak sekolah karena adanya kekhawatiran terhadap duri ikan serta kendala dalam proses pengolahan.
Kebutuhan Telur dan Ayam Disesuaikan Penerima Manfaat
Dari sisi kebutuhan protein, jumlah bahan baku disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat masing-masing dapur.
Untuk dapur pertama, jumlah penerima manfaat disebut mencapai sekitar 2.915 orang, sedangkan dapur kedua sekitar 2.177 orang.
Dengan demikian, kedua dapur tersebut secara keseluruhan melayani sekitar 5.092 penerima manfaat, yang mencakup peserta didik pada berbagai jenjang serta kelompok penerima manfaat lainnya sesuai ketentuan program.
Untuk ayam, kebutuhan dihitung berdasarkan jumlah potong atau pieces (pcs), sementara bahan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan menu dan jumlah penerima manfaat.
Roy mengatakan pengadaan dilakukan dengan perhitungan yang ditujukan untuk mencegah kekurangan maupun kelebihan bahan baku.
Dorong Petani Tingkatkan Produksi
Lebih lanjut, Roy mengatakan pihak yayasan bersama pengelola dapur juga telah melakukan sosialisasi kepada petani lokal.
Sosialisasi dilakukan sejak awal operasional dapur dengan mengajak petani untuk meningkatkan produksi karena pihak dapur siap menyerap hasil pertanian yang sesuai kebutuhan.
Sosialisasi tersebut dilakukan di wilayah Pendopo dan kemudian kembali dilakukan ketika dapur kedua mulai beroperasi, termasuk melibatkan sekolah dan instansi terkait.
“Kami sampaikan kepada petani bahwa dapur siap menerima berbagai jenis sayuran yang dibutuhkan. Jadi petani bisa meningkatkan produksi dan ketika sesuai kebutuhan, kami beli,” ungkapnya.
Menurut Roy, langkah tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur MBG, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
Berharap Koperasi Merah Putih Terlibat
Terkait rencana pengembangan rantai pasok lokal, Roy menyambut baik peluang kerja sama dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Menurutnya, koperasi dapat berperan dalam menghimpun hasil produksi petani dan masyarakat sehingga pasokan bahan baku untuk dapur dapat lebih terorganisasi.
“Koperasi bisa membantu mengumpulkan bahan baku yang ada di Kepulauan Aru, khususnya sayur dan buah. Kami sangat setuju kalau nantinya bisa berkolaborasi,” katanya.
Ia berharap koperasi nantinya tidak hanya mengelola satu jenis komoditas, tetapi dapat menghimpun berbagai produk lokal yang dibutuhkan dalam penyediaan makanan bergizi.
Dua Dapur Memiliki Batas Penerima Manfaat
Roy menjelaskan, keberadaan dapur yang dinaungi Yayasan Bina Desa Lestari memiliki batas penerima manfaat sesuai kapasitas yang telah ditetapkan.
Menurut dia, satu dapur maksimal melayani sekitar 3.000 penerima manfaat. Karena saat ini terdapat dua dapur, maka kapasitas maksimal kedua dapur berada di kisaran 6.000 penerima manfaat.
“Kalau ada dapur baru, itu nantinya bisa dikelola yayasan lain sesuai ketentuan. Jadi tidak semua dapur di Dobo berada di bawah yayasan kami,” jelasnya.
Ia mengatakan masih terdapat sejumlah sekolah di luar jangkauan pelayanan kedua dapur tersebut. Namun penambahan cakupan penerima manfaat harus menyesuaikan dengan pembangunan dan pengoperasian dapur baru.
“Untuk dapur kedua masih di sekitar lingkungan sekolah yang menjadi sasaran pelayanan. Penambahan penerima manfaat akan mengikuti kapasitas dapur,” katanya.
Pemeriksaan Kesehatan Pengelola Dapur
Dalam aspek keamanan pangan dan kesehatan, Roy mengatakan para pengelola dan relawan yang bekerja di dapur juga menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari persyaratan pelayanan.
Pemeriksaan mencakup personel yang terlibat dalam operasional dapur, mulai dari kepala SPPG hingga tenaga yang menangani persiapan dan pengolahan makanan.
Pemeriksaan tersebut dilakukan melalui fasilitas kesehatan setempat dan mencakup sejumlah pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan TBC dan hepatitis sesuai proses yang dijalankan.
Menurut Roy, pemeriksaan kesehatan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan personel yang menangani makanan berada dalam kondisi sehat dan memenuhi persyaratan keamanan pangan.
Perlu Penguatan Rantai Pasok Lokal
Secara keseluruhan, pengelola dua dapur MBG di Dobo menyatakan tetap berkomitmen meningkatkan serapan produk lokal.
Namun, ketersediaan dan kesinambungan pasokan masih menjadi tantangan. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, petani, UMKM, koperasi, supplier dan pengelola dapur.
Penguatan rantai pasok dinilai penting agar program MBG tidak hanya berorientasi pada penyediaan makanan bergizi bagi penerima manfaat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Roy Fernada menegaskan, pihaknya terbuka terhadap kerja sama dengan petani, UMKM maupun kelembagaan ekonomi masyarakat selama mampu memenuhi standar dan kebutuhan bahan baku yang ditetapkan.(IM-DW)







