IM-PIRU;—Bantuan pihak Kementerian PDTT tahun anggaran 2021 berupa kapal dengan 3 mesin dalam total 600 PK kepada Bumdes Tomalehu Barat jadi mubazir. Kapal “Kapitan Jongker” kini rusak total tak dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat di desa tersebut.
Kondisi kapal begitu miris karena sudah jadi bangkai kapal di pantai Kairatu Beach. Bumdes Tomalehu Barat dalam mengelola bantuan kapal dinilai abai. Faktanya Kapal mewah dengan mesin 600 PK, tapi kapal dikembalikan ke kontrakor dalam kondisi rusak.
Mengapa hal itu terjadi, pasalnya kapal dengan kapasitas angkut 30 penumpang rute Manipa – Tahoku ini dibiarkan tak terurus sejak diserahkan pihak Kementerian PDTT pada Maret 2022 lalu ke Pemda Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB)
Ketika dikonfirmasi ke Dinas Perhubungan Kabupaten SBB, PPK Fadlia Pelu yang bertugas mengawasi pembuatan kapal Kapitan Jongker di galangan kapal milik CV. MEGA KARYA UTAMA di Desa Laha Kota Ambon, menjelaskan, perencanaan kapal di tahun 2020 tapi disetujui masuk anggaran tahun 2022
Berdasarkan kontrak kerja, pengajuan kapal ini dianggarkan Rp.2.500.000.000. tetapi disetujui Rp.2.081.600.400 sebelum dikerjakan oleh CV. MEGA KARYA UTAMA.
Pelu menjelaskan proses pekerjaan selesai November 2021, tetapi akibat cuaca alam tidak bersahabat dan belum ada pemeriksaan dari BPK maka kapal mewah tersebut dititipkan sementara di galangan Kapal milik CV. Mega Karya Utama dengan Surat Perjanjian Penitipan, hingga kapal Kapitan Jongker diserahterimakan antara Pemda SBB dan Bumdes Desa Tumalehu Barat pada Maret 2022.
Dengan perjanjian bahwa pihak penerima bantuan bersedia melakukan pemeliharaan rutin dan menanggung biaya operasional kapal. Dan bersedia membuat laporan ke Dinas Perhubungan SBN tiap triwulan.
“Kapal tersebut diberikan kepada Bumdes Tumalehu Barat dengan alasan penjabat desa Tomalehu Barat yang adalah pegawai Dinas Pariwisata SBB dapat mengelola kapal tersebut. Dengan harapan selain sebagai alat transportasi masyarakat Manipa, juga dapat digunakan untuk antar jemput tamu/ wisatawan lokal dan domestik yang butuh alat transportasi tetapi kenyataannya malah berbanding terbalik,”jelas Pelu.
Infomalukunews, sudah menghubungi Penjabat Desa Tumalehu barat, Yusnita Tiakoly alias YT dengan telepon seluler maupun melalui pesan whatssap untuk keterangan resmi. Namun Yusnita belum memberikan tanggapan.
Terhadap kasus ini, diminta pihak Kejaksaan Negeri SBB segera mengusut kapal bantuan yang saat ini terbengkalai di Kairatu Beach. “Selanjutnya meminta pertanggung jawaban pengelolaan dari pihak Bumdes Tomalehu Barat,” ujarFranko Falirmury yang juga kontrakor kapal Kapitan Yongker, Senin (6/08/2023)
Menurut Franko, Bumdes lah yang harus tanggung jawab, mengapa kapal yang diserahkan dalam kondisi baik tapi dikembalikan dalam kondisi rusak parah. (IM-03)






