Infomalukunews.com. SBT–Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Desa Tunsai, Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), menggelar dialog publik bertema “Etika Generasi di Era Moderen”, berlangsung di halaman Masjid Nurul Huda, Sabtu (21/03/2026).
Menariknya, kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus forum diskusi kritis bagi mahasiswa dan pemuda, dalam membahas persoalan etika dan moral di tengah perkembangan era digital.
Narasumber pertama, Moksen Kaplale, mengatakan bahwa dalam beberapa waktu terakhir mahasiswa dan pelajar aktif menggelar kegiatan yang berkaitan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Kegiatan tersebut, menurutnya, menjadi ruang refleksi terhadap kondisi etika generasi muda saat ini.
“Dari kegiatan tersebut, mereka mampu melihat realitas sosial, khususnya terkait etika generasi muda, hingga kemudian mengangkat tema tentang pentingnya etika pemuda Indonesia,” ujarnya.
Ia menilai, langkah tersebut merupakan bentuk kepedulian nyata generasi muda terhadap kondisi sosial di lingkungan masyarakat, sekaligus menjadi motivasi bagi pemuda lainnya untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan positif.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen generasi muda untuk mendukung setiap program yang digagas oleh mahasiswa dan pelajar. Menurutnya, ide dan gagasan yang lahir dari lingkungan kampus merupakan hasil dari proses akademik yang perlu diapresiasi serta diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kita tidak boleh bersikap apatis. Justru kita harus menjadikan semangat mereka sebagai inspirasi untuk terus bergerak dan berkontribusi,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya etika sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter generasi muda. Etika, kata dia, tidak hanya mencerminkan kepribadian individu, tetapi juga menjadi tolok ukur dalam menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Etika dan moral harus berjalan seiring. Dengan begitu, kita dapat menciptakan kehidupan yang harmonis serta menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak,” tambahnya.
Sementara itu, Komarudin Bolat, dalam paparnya, ia mendorong agar kegiatan pembinaan generasi muda seperti dialog publik dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, generasi muda dituntut untuk tetap menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab.
“Teknologi harus dimanfaatkan secara bijak. Tanpa etika, perkembangan ini justru bisa berdampak negatif,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga sebagai bagian dari pembentukan karakter. Menurutnya, komunikasi antara anak dan orang tua perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Komunikasi itu sangat penting, terutama dengan orang tua. Sebelum beraktivitas di luar rumah, kita perlu membiasakan diri untuk berkomunikasi, menyampaikan tujuan, serta meminta izin,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan membangun komunikasi yang baik dalam keluarga akan membentuk sikap tanggung jawab serta memperkuat hubungan emosional.
“Dengan komunikasi yang baik, kita dapat saling memahami, menjaga kepercayaan, serta menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga,” jelasnya.
Di sisi lain, Fahman Kelian menyampaikan bahwa cara berpikir menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi. Dari proses berpikir tersebut, lahir tindakan, nilai, hingga dinamika sosial di tengah masyarakat.
“Etika merupakan hasil dari proses berpikir. Karena itu, tidak bisa dipisahkan antara pola pikir dengan etika,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengetahuan dasar tetap dibutuhkan, terutama dalam memahami sejarah dan realitas sosial. Menurutnya, kemampuan individu merupakan hasil dari proses berpikir yang terbentuk melalui interaksi sosial.
Dalam pemaparannya, ia mengutip pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan semboyan: “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.”
Filosofi tersebut, jelasnya, menggambarkan peran penting seorang pemimpin dalam kehidupan sosial, yakni memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, serta memberikan dorongan dari belakang.
“Dalam realitas saat ini, kita membutuhkan figur yang bisa menjadi contoh dalam beretika. Tidak cukup hanya mendorong, tetapi juga harus memberi teladan,” tambahnya.
Dialog ini menjadi ruang refleksi bagi pemuda, untuk memperkuat peran mereka dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beretika dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan ini juga membuka sesi tanya jawab bagi peserta.(IM-06).



