INFOMALUKUNEWS.COM, AMBON–Satuan Kerja (Satker) wilayah Pulau Buru mengatakan pekerjaan bendungan Way Apu di kabupaten pulau Buru, direncanakan akan selesai di tahun 2026 mendatang, hal ini, karena secara pendanaan ada relaksasi dari pusat.
Menurutnya, dana penyelesaian digunakan untuk program prioritas presiden yang lain diwilayah indonesia.
“Kendala lain berupa curah hujan khususnya di pulau buru tahun 2025 jauh lebih tinggi dibanding tahun 2024 dan rata rata curah hujan selama 20 tahun terakhir (berdasarkan BMKG Maluku) sehingga pekerjaan timbunan zona inti terhambat,” ucap Andy Humas Bendungan Way Apu, dalam pesan WhatsAppnya yang di terima media ini, Selasa (24/09/2025)
Penimbunan material zona inti memerlukan kadar air, katanya, ini tentu sesuai spesifikasi sehingga membutuhkan penjemuran material untuk mencapai spesifikasi tersebut.
“Jika sering terjadi hujan maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai spesifikasi tersebut,” paparnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, bersama Bupati Kabupaten Buru, Ikram Umasugi, melakukan kunjungan lapangan ke proyek Bendungan Way Apu, pada Senin, (11/08/2025) lalu.
Turut mendampingi dalam peninjauan tersebut Wakil Bupati Buru, unsur pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Buru, Forkopimda, serta jajaran dari Balai Wilayah Sungai Provinsi Maluku dan Kasatker.
Dalam laporannya dari lokasi proyek, Vanath menyampaikan kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, bila pekerjaan lapangan masih berjalan sesuai rencana meskipun terkendala oleh curah hujan yang tinggi.
“Dapat kami laporkan pak Gubernur, sesuai perintah kami sudah berada di lokasi. Peninjauan lapangan dapat kami laporkan semuanya berjalan normal tetapi situasi di lapangan memang curah hujan disini cukup tinggi ya pak Kasatker ya?” ujar Vanath saat menyampaikan update dari lokasi proyek.
Selain itu, lanjut Wagub Vanath, persoalan administratif dan regulasi perlu mendapatkan perhatian dari berbagai tingkatan pemerintahan agar proyek ini tidak tertunda dalam proses pembangunan lebih lanjut.
“Hal-hal yang menjadi kendala, ada yang menjadi tugas dari pak Bupati Buru nanti beliau akan melaporkan. Ada juga yang harus kita dorong dari pemerintah Provinsi Maluku di antaranya adalah amdal yang hari ini masih berproses di Kementerian Lingkungan Hidup, kemudian alih fungsi hutan untuk pengembangan dan pembiayaan lanjutan itu harus bisa tetap diperjuangkan agar supaya tidak terhenti sehingga diharapkan pada waktunya bendungan Way Apu ini bisa berfungsi sesuai yang direncanakan,” ungkapnya.
Ditempat yang sama, Bupati Kabupaten Buru, Ikram Umasugi, menerangkan progres proyek berjalan cukup baik secara teknis, meskipun masih terdapat hambatan pada aspek pembebasan lahan.
“Proyek pembangunan bendungan Way Apu yang merupakan proyek strategis nasional berjalan cukup baik. Saya kira ada kendala kecil disini terkait dengan pembangunan suplesi terkait dengan persoalan pembebasan lahan,” jelas Umasugi.
Ia juga menyampaikan pemerintah kabupaten akan menjalin komunikasi intensif dengan para pemangku adat di sekitar lokasi pembangunan sebagai bagian dari upaya penyelesaian permasalahan tersebut.
“Nah ini menjadi kewenangan kami untuk bagaimana kami bisa menyelesaikan. Kita akan berkoordinasi dengan seluruh pemangku-pemangku adat yang ada disini. Ada pak Camat, kebetulan pak Camatnya orang asli disini,” tambahnya.
Bupati berharap, proyek Bendungan Way Apu segera rampung dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian sekaligus menjadi simbol sinergi antara pemerintah pusat, provinsi dan daerah dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di wilayah timur Indonesia.
“Jadi insha Allah, kita doakan mudah-mudahan ini semua bisa berjalan lancar sesuai dengan yang kita harapkan.” harapnya.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pembangunan infrastruktur sumber daya air, khususnya bendungan, yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa ketersediaan air yang memadai melalui infrastruktur ini adalah kunci utama untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan.
“Kita sepakat bahwa infrastruktur sumber daya air sangat penting untuk mencapai swasembada pangan,” ujar Menteri Dody.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pembangunan bendungan bukan hanya sekadar proyek fisik, melainkan bagian integral dari sistem irigasi yang kompleks.
Air yang tertampung di bendungan akan disalurkan secara efisien melalui jaringan irigasi primer, sekunder, hingga tersier, memastikan pasokan air sampai langsung ke lahan-lahan pertanian para petani.
Salah satu proyek strategis yang sedang dikebut penyelesaiannya adalah Bendungan Way Apu di Provinsi Maluku yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air cq Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku.
Bendungan ini memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan air dan pangan di wilayah tersebut. Proyek yang berlokasi di Kabupaten Buru ini telah dimulai sejak Desember 2017.
Pekerjaan konstruksinya dibagi menjadi dua paket utama yakni Paket 1, yang meliputi konstruksi bendungan utama, Sementara itu, Paket 2 yang fokus pada konstruksi bendungan pelimpah (spillway).
Kepala BWS Maluku, Magdalena Tanga, menyampaikan bahwa progres fisik pembangunan bendungan ini telah mencapai 79,8%.
“Ditargetkan seluruh pekerjaan konstruksinya dapat selesai pada tahun 2026,” kata Magdalena.
Ia menambahkan bahwa penyelesaian konstruksi akan segera diikuti dengan penyediaan jaringan irigasi. Langkah ini l agar air yang tertampung di bendungan dapat segera dimanfaatkan secara optimal oleh para petani untuk mengairi sawah-sawah mereka, sehingga dampak positif bendungan dapat dirasakan sesegera mungkin oleh masyarakat.
Magdalena juga merinci berbagai pekerjaan konstruksi yang masih dalam tahap “ongoing”. Pekerjaan-pekerjaan ini mencakup penimbunan main cofferdam dan main dam, drilling dan grouting main dam untuk memperkuat struktur inti bendungan, pembetonan spillway yang krusial untuk mengalirkan kelebihan air dari waduk atau bendungan, perkuatan tebing di sekitar bendungan, pekerjaan saluran pengarah dan groundsill, serta penimbunan backfill random dan free drain.
Selain itu, konstruksi tower intake dan jembatan tower intake juga terus berjalan, begitu pula bangunan pengambilan, saluran hantar, rumah katup, proteksi lereng, dan rigid pavement jalan utama. Seluruh elemen ini adalah komponen vital yang harus diselesaikan untuk memastikan fungsionalitas dan keamanan bendungan secara menyeluruh.
Secara spesifikasi teknis, Magdalena menjelaskan bahwa Bendungan Way Apu memiliki tinggi 69 meter, lebar puncak 12 meter, dan panjang puncak 490 meter. Luas daerah genangan bendungan ini mencapai 273,79 hektar, dengan kapasitas tampungan air sebesar 50,05 juta meter kubik.
“Nantinya bendungan ini dapat menyediakan air irigasi seluas 10.562 ha dan air baku dengan debit 0.205 meter kubik per detik. Selain itu juga dapat mereduksi banjir sebesar 394 m3/detik, pembangkit listrik berkapasitas 8 MW yang mampu menerangi sekitar 8.750 rumah berkapasitas 900 watt, serta sebagai tempat pariwisata yang untuk mendukung pertumbuhan perekonomian daerah,” ujarnya.
Bendungan Way Apu memiliki beragam manfaat. Selain untuk irigasi seluas 10.562 hektar dan penyediaan air baku 0,205 meter kubik per detik untuk kebutuhan domestik, bendungan ini juga berfungsi mereduksi banjir sebesar 394 meter kubik per detik, melindungi pemukiman dan lahan pertanian.
Diketahui, Lokasi proyek tersebar di dua desa utama yaitu Desa Wapsalit, Kecamatan Lolong Guba dan Desa Wae Flan, Kecamatan Wae Lata. Pekerjaan bendungan tersebut dikerjakan pada tahun 2017. (IM-03)







