Tambang Atau Tumbang??

- Publisher

Friday, 14 June 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

INFOMALUKUNEWS.COM,JAKARTA,–Memang, tambanh dan tumbang merupakan dua kalimat yang berbeda makna. Jika tekilir dalam mengucapkan pasti bisa membingungkan pembacanya. Sebab arti dari tambang itu dapat dipahami secara umum tempatnya sumber duit. Tapi boleh juga lebih bebas diartikan, semacam upaya mengeruk isi perut bumi, seperti emas yang disebut tembaga agaTar takaran pembagian atau pajak bisa diringankan seringan mungkin.

Isi perut bumi yang bisa dikuras itu, macam ragamnya pun cukup banyak. Mulai dari bouksit, timah hingga pasir yang jauh leboh murah dari timah, perak dam tembaga hingga emas, tidak kalah menggiurkan juga minyak bumi, batu bara yang sedang menjadi primadona banyak negara.

Karena itu, konsesi yang dibagikan secara gratisan untuk Ormas Keagamaan terus disamber seperti buaya krkaparan menelan bangkai yang sudah membusuk dan pasti akan menebar bencana bagi kemanusiaan. Meski selama ini kesan umum terhadap tambang tetap dicitrakan selalu baik, sebab akibat dari apa yang ditimbulkan oleh tambang itu, tak pernah serius dikaji secara terbuka, lantaran lebih dominan pengaruh yang menutupinya.

Disinilah persilangan antara tambang dan tumbang, akibat terusan dari tambang yang konon katanya sangat tidak beradab dilakikan, setelah pengerukan isi perut bumi itub habis terkuras dilakukan, lokasinya ditinggal begitu saja, layak status kawin kontrak tiada perlu pertang jawaban moral.

Lalu enam konsesi tambang bekas yang tinggal ampasnya itu, ditawarkan dengan seronok kepada Ormas Keagamaan yang mengesankan pada pelecehan. Agaknya, itulah yang menjadi pertimbangan umum Ormas Keagamaan dominan menolak. Inilah yang terjadi, konsesi tambang yang tumbang untuk mengiming-iming pembangkangan Ormas Keagamaan yang ogah diatur — jika tak boleh diduga hendak disandera seperti Partai Politik — yang tak berkutik dibawah ketiak persekongkolan jahat penguasa yang culas.

Enam konsesi lahan tambang bekas Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batubara (PKP2B) yang cuma tinggal ampasnya itu dihadikan jatah oleh pemerintah berdasarkan PP No. 25 Tahun 2024 adalah lahan bekas PT. Tanito Harum seluas 34.583 hektar, lahan bekas PT. Arutmin Indonesia seluas 22.900 hektar, lahan bekas PT. Kaltim Prima Coal seluas 23.395 hektar, lahan bekas PT. Multi Harapan Utama seluas 9.563 hektar serta lahan bekas PT. Adaro Indonesia seluas 7.438 hektar dan PT. Kideco yang tersisa 13. 613 hektar.

Pesan yang cukup mengesankan dari Head of Corporate Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira seperti yang dilansir berbagai media berharap pengelolaan tambang oleh badan usaha atau badan hukum yang dimiliki Ormas bisa dilakukan secara bijak berdasarkan prinsip-prinsip praktek usaha pertambangan yang baik dan benar (good mining practices) dan senantiasa menerapkan ESG (environmental, social, governence) sehingga memberi manfaat yang besar untuk masyarakat, lingkungan serta konstribusi positif bagi pembangunan di daerah maupun bangsa dan negara.

Peringatan ini, pasti beranjak dari pengalaman atau praktek langsung di lapangan yang selama ini dialami dan dirasakan oleh praktisi pertambangan di Indonesia. Artinya, kecemasan terhadap tambang yang bisa menjadi ancaman nyata bagi “pemain baru” dalam bidang usaha pertambangan yang bisa salah dan juga menyesatkan pengelola organisasi keagamaan di Indonesia yang terlibat dalam pengelolaan usaha tambang.

Agaknya, itulah yang menjadi salah satu dari sekian banyak pertimbangan dari hampir seluruh Ormas Keagamaan — kecuali PB. NU — yang dengan rendah hati menolak tawaran yang tidak cuma bisa menjadi jebakan, tapi juga dapat memabukkan sekaligus jalan yang menyesatkan. Karena jarak pertambangan di bumi sungguh jauh intervalnya dari Ormas Keagamaan yang relatif lebih dekat ke langit.

Adapun pilihan pemasangan judul “Tambang Atau Tumbang” komplit dengan tiga tanda tanya besar ini adalah berasal dari puisi pendek penutup dari diskusi serius bersama Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu sepanjang perjalanan keliling Jakarta Utara, pada hari Kamis, 13 Juni 2024 untuk dapat lebih meyakinkan bahwa ekonomi rakyat sungguh sedang terpuruk, memprihatinkan. Apalagi kemudian akan ditimpali oleh rencana pemerintah ingin memberlakukan empat hari kerja dalam seminggu.(Tim IM Jacob Ereste)

Jakarta, 13 Juni 2024

Berita Terkait

Ketua TKBM: Lomba Belang Oktober Akan Lebih Besar Lagi, Menargetkan Maluku Tenggara Dan Siswa SMA
Mantan Bendahara Dinkes Bursel AT, Diduga Gelapkan Dana BOKB Rp400 Juta, APH Diminta Segera Bertindak
Polres SBB Amankan 4 Terduga Pelaku, Kapolres AKBP Andi Zulkifli: Kasus Masih Dikembangkan
Puluhan Tanah SMA/SMK di SBB Belum Bersertifikat, Kacabdin Kejar Tuntas Juli 2026
“Sinergitas TNI dan Para Dai” Danrindam Tekankan Komitmen Kebangsaan Demi Keutuhan NKRII ‎
DPRD Maluku Ingatkan Pentingnya Realisasi Rekomendasi LKPJ
Polisi Kirim SPDP Kasus Pembunuhan Nus Kei ke Kejaksaan, Penanganan Masuk Tahap Lanjutan
Pemkot Ambon Perkuat Fasilitasi Haji 2026, Manasik Jadi Bekal Kemandirian Jamaah
Berita ini 98 kali dibaca

Berita Terkait

Thursday, 20 August 2026 - 06:44 WIT

Ketua TKBM: Lomba Belang Oktober Akan Lebih Besar Lagi, Menargetkan Maluku Tenggara Dan Siswa SMA

Wednesday, 24 June 2026 - 10:33 WIT

Mantan Bendahara Dinkes Bursel AT, Diduga Gelapkan Dana BOKB Rp400 Juta, APH Diminta Segera Bertindak

Tuesday, 2 June 2026 - 10:01 WIT

Polres SBB Amankan 4 Terduga Pelaku, Kapolres AKBP Andi Zulkifli: Kasus Masih Dikembangkan

Tuesday, 26 May 2026 - 14:02 WIT

Puluhan Tanah SMA/SMK di SBB Belum Bersertifikat, Kacabdin Kejar Tuntas Juli 2026

Thursday, 7 May 2026 - 22:49 WIT

“Sinergitas TNI dan Para Dai” Danrindam Tekankan Komitmen Kebangsaan Demi Keutuhan NKRII ‎

Berita Terbaru

Daerah

Sambut HUT ke-81 TNI AL, Kodaeral IX Gelar Doa Bersama

Wednesday, 9 Sep 2026 - 17:05 WIT