INFOMALUKUNEWS.COM,- AMBON-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkolaborasi bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikburistek) dan Pengurus Besar Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) menjaring sineas-sineas muda di Indonesia Timur baik Maluku, Maluku Utara (Malut) dan Papua untuk menyebarkan nilai-nilai dan budaya anti korupsi dan cinta hutan lewat pembutan film.
Olehnya itu, penulis skenario sekaligus sutradara kawakan Indonesia, Mohammad Irfan Ramli alias Ipang, kini telah mendapatkan 10 ragam ide cerita ditahap akhir atau final untuk mengikuti workshop “pengembangan cerita dan penulisan skenario”.
Sebelumnya, terdapat 37 ide cerita dan skenario yang telah masuk di tahap awal, namun kini sudah ditelah menjadi 10 ragam ide cerita.
Kepada wartawan, Kepala Satuan Tugas Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Medio Venda menyebut, kehadiran KPK di Maluku, salah satunya ingin menyebarkan nilai-nilai anti korupsi melalui seni dengan medianya lewat film di platform “Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST). ACFFEST sendiri telah jalan 10 tahun sejak 2014 silam.
Menurutnya, setiap tahunnya gelaran ACFFEST diikuti cukup banyak peserta. Di tahun 2023 bahkan mencapai 1000 submission atau peminat yang masuk. Hanya saja dari wilayah Indonesia Timur yang terlibat sangat sedikit. Sehingga perlu ada langkah afirmasi ke wilayah Timur untuk meningkatkan submission di ACFFEST 2024.
“Lewat mini program ACFFEST regional wilayah timur, kami bekerjasama dengan FESFIP AMGPM serta Kemendikbudristek. Kita ingin mendapatkan ide-ide cerita bagus dari wilayah timur lewat kompetisi ini. Allhamdulilah kita dapat 37 ide cerita yang sangat menarik dan kini sudah kita kerucutkan jadi 10 ide cerita,” kata Medio di sela-sela workshop di Santika Hotel Ambon, Sabtu (17/08/2024)
Pada kesempatan itu, tim dari 10 ide cerita ini kemudian diundang ke Ambon, guna memberikan pelatihan atau workshop, agar pengembangan cerita dan scenario film yang akan dibuat sesuai standar nasional.
Selain itu kata dia, diharapkan ketika kembali ke daerah masing-masing, mereka dapat menularkan pengetahuan dan ilmu yang didapat.
Dimana masalah pertambangan menjadi salah satu isu menarik yang diangkat untuk dibuatkan film, selain memang persoalan budaya, seperti penjualan hutan adat yang “ditukar” untuk kepentingan pertambangan. Karena itu diharapkan lewat film, masyarakat bisa paham fakta tersebut menjadi konsern bersama.
“Di akhir, kita akan pilih 2 film yang akan diberikan bantuan dana produksi, untuk menggarap film yang bisa disaksikan masyarakat Indonesia, tentang nilai anti korupsi dan kehutanan. Fokus kedua isu itu memang ada di wilayah Timur. Kedepan hasil 10 script dan ide cerita yang matang ini, bisa diproduksi mandiri maupun mengikuti kompetisi film lain di Indonesia maupun ACFFEST 2025,” tandasnya.
Sementara itu, Pamong budaya bidang perfilman Kemendikbud-Ristek, Marlina Mahfud menyebut, banyak cerita dari wilayah timur yang memang kurang dilirik dan dijangkau secara nasional.
Faktanya, banyak film nasional masih Jawa-sentris atau Jakarta-sentris. Ini yang membuat wilayah timur kini mendapat porsi besar untuk workshop film, diskusi film dan sebagainya.
“Kepentingan kita, setiap film yang dihasilkan harus ada nilai budaya di daerah setempat. Seperti budaya “Matakao” di Maluku yang harus diperkenalkan ke kancah nasional, disamping budaya lain yang mesti mendapat spotlite khusus lewat film,” demikian kata dia.
Di tempat yang sama, Sekretaris Umum PB AMGPM Pendeta Rischard Resley menyambut baik diajaknya AMGPM dalam ACFFEST 2024. Sebab memang ini sejalan dengan FESFIP AMGPM yang telah jalan 2 tahun terakhir meski masih skala lokal, Maluku-Malut, dengan puluhan peminat dari kalangan pemuda.
“Kita bersyukur karena proposal kita disambut dengan baik KPK, karena memang ide awal kita terbatas dari aspek finansial. Maka kita mencoba membangun kerjasama, kolaborasi. Bahkan Kemendikbudristek dan support system lain ikut ambil bagian,” jelasnya.
Dikatakan Resley, lewat ACFFEST 2024, menjadi bahan evaluasi bahwa semangat kerja FESFIP juga butuh barometer lain. Sehingga dengan workshop yang dilakukan hadirkan penulis skenario dan sutradara Indonesia, memberi catatan ternyata ada rangkaian lain untuk diatensi, tidak ideal langsung ke festival.
“Kami berharap dengan KPK dan Kemendikbudristek ada didalamnya, secara lokal FESFIP AMGPM dapat berkelanjutan, mensupport kegiatan positif di bidang film dan seni. Dan tentu kami butuh kerja ekstra menyiapkan kreatifitas sineas-sineas muda dalam mendesain film pendek dan panjang,” pungkasnya. (IM-Tim)






